SECERCAH CINTAKU UNTUKNYA PART 2

Hey, hello paramitra setia mitra difabel.
Aku kembali muncul menyapa kalian semua nih, tentunya dengan membawa kelanjutan cerita yang berjudul SECERCAH CINTAKU UNTUKNYA dong.
Kali ini sudah di part yang kedua ya sob, dan bagi sobat yang penasaran, yuk ah sob, langsung saja kita intip ceritanya, sambil ngabuburit.
SELAMAT MEMBACA

SECERCAH CINTAKU UNTUKNYA BY MUHAMMAD AINUL YAQIN


Pagi ini adalah hari keberangkatan Bela dan natan ke Desa Karang Atos. Sekolahpun mengadakan doa bersama untuk melepaskan kepergian mereka.
Setelah doa bersama selesai dilaksanakan, maka Bela dan Natanpun siap berangkat. Pak Syarif sebagai Kepala Sekolah yang mengantarkan mereka sampai ke Desa Karang Atos.
Selama dalam perjalanan Natan benar-benar diam seribu bahasa. Ia tidak banyak bicara, jika memang tidak benar-benar perlu.
“Hmm, cowok ini memang benar-benar dingin dan pendiam.” Gumam Bela dalam hati.
“Tapi lihatlah, pasti di desa nanti akan aku buat Dia benar-benar bertekuk lutut padaku.” Gumamnya percaya diri.
        “Mas Natan tadi sarapan nggak?” Tanya Bela sambil membuka tas kecilnya. Agaknya dia mau mengambil makanan semacam roti apa mungkin biskuit dari dalam tasnya.
“Sarapan, Mbak. Ibuku selalu mengingatkan aku untuk sarapan jika aku hendak bepergian jauh.” Jawab Natan. Bela mengangguk, lalu suasana didalam mobil itu kembali sepi seperti semula. Tidak ada suara manusia yang bercakap, yang ada hanya suara deru mesin mobil dan suara tlakson kendaraan dikeramaian jalan raya yang terdengar samar-samar dari dalam mobil.

Setelah hampir 2 jam mereka menempuh perjalanan, maka sampailah mereka di sebuah pedesaan yang sangat terpencil, namun suasana pedesaan itu benar-benar masih sejuk dan asri.
Udara yang segar, sungai yang mengalir jernih, dan persawahan yang hijau luas membentang. Gunung yang tinggi mencakar langit menambah indah pemandangan desa itu. Jika di kota terdengar suara tlakson yang selalu memekakan telinga, maka di desa ini terdengar kicau burung yang memanjakan telinga.
Inilah desa Karang Atos. Desa di wilayah pegunungan yang jauh dari keramaian kota, desa yang menenangkan dan penduduknya rukun serta makmur.
Natan dan Bela serta Pak Syarif tiba di desa itu sekitar pukul 4 sore. Pak Rasimun, selaku kepala desa Karang Atos, yang rumahnya akan ditumpangi Natan dan Bela, menyambut mereka dengan ramah. Tidak ketinggalan pula Bu Warsini, istri Pak Rasimun, dan kedua anaknya yang bernama Parjo, dan anak perempuannya yang bernama Sekar mirah, ikut menyambut kedatangan Natan dan Bela.
“Saya titip anak didik saya Pak Kades.” Ucap Pak Syarif pada Pak Rasimun saat hendak meninggalkan Natan dan Bela.
Lalu sesudah itu, Pak Syarif pamit untuk kembali kekota.

“Mari, Mas, biar aku antar ke kamar, siapatau masnya mau bersiap untuk mandi, dan sesudah itu masnya pengin beristirahat. Nanti Mbaknya biar adek saya Sekar Mirah yang menghantarkan kekamarnya.” Ucap Parjo pada Natan dan Bela dengan ramahnya.
“Eh, iya, terimakasi Mas, terimakasih.” Jawab Natan tak kalah ramahnya. Sementara Bela, hanya terdiam seperti orang yang kebingungan. Sehingga Parjopun memanggil adiknya yang bernama Sekar Mirah.
“Sekar! Nih, tolong hantarkan Mbak Bela kekamarnya.” Panggilan Parjo tidak hanya mengejutkan Sekarmirah, tapi mengejutkan Pak Rasimun dan Bu Warsini yang masih mengobrol dengan tetangganya di halaman rumahnya, setelah menghantarkan kepergian Pak Syarif tadi.
“Hmm, agaknya memang kebiasaan semua orang peddesaan, mengerumpi dengan tetangganya.” Gumam Natan dalam hati, sementara Bela hanya terdiam seperti orang dongo yang tak tahu apa-apa.
“Mari, Mbak, aku hantarkan Mbak kekamar.” Ucap Sekar Mirah.
“EEH, iya, terimakasih Mbak.” Jawab Bela.

Setelah sudah berada di kamarnya, Bela sedikit bertanya-tanya dalam hati: mengapa sikap Pak KADES dan istrinya benar-benar berbeda? Tadi waktu Pak Syarif masih berada disini mereka benar-benar ramah, setelah Pak Syarif udah pulang mengapa mereka seperti lupa kalau di rumahnya ada tamu? Mereka malah asyik ngerumpi dengan tetangganya, dan yang menghantar aku juga Natan ke kamarnya malah anaknya yang cowok dan yang cewek itu. Oooh, rupanya begini sikap orang kampung?
Bela terus bergumam dalam hatinya, sementara Natan tak acuh dengan sikap apapun yang di hadapinya.
Natan malah asyik membaca-baca buku yang dibawanya, sambil merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Sementara Bela masih gelisa di kamarnya, karena selain memikirkan sikap sang tuan rumah, Ia juga dari di mobil sudah terasa ingin pipis yang terus di tahannya.
“Kalau aku tahan terus, bisa-bisa aku ngompol nih, duh, biarlah aku cari gadis yang bernama Sekar Mirah tadi, aku benar-benar nggak kuat lagi pengin pipis.” Gumam Bela, lalu dengan berjalan terjingkat-jingkat Bela keluar dari kamar, dan mencari Sekar Mirah.
Dari dalam rumah samar-samar terdengar suara Pak Rasimun dan Bu Warsini yang masih saja mengerumpi dengan tetangganya.
Sesekali Mereka tertawa, kemudian terlibat lagi dengan obrolan yang Bela benar-benar tidak mampu mendengarnya dengan jelas. Karena selain mereka jauh, mereka ngobrol menggunakan bahasa jawa yang Bela samasekali tidak mengerti artinya.
“Permisi Pak, Bu.” Ucap Bela dengan sopan saat bela sudah berada juga di beranda rumah itu. Namun sepertinya mereka tidak ada yang melihat kehadiran Bela, sehingga mereka kaget.
“Eh, iya Mbak, ada yang bisa saya bantu?” Ucap Sekar Mirah.
“Maaf Mbak, saya mau tanya.” Bela tidak melanjutkan kata-katanya, sehingga sekar Mirah mendekat.
“Iya, Mbak, ada yang bisa saya bantu?”
“Saya mau tanya, dimana kamarmandi?” Ucap Bela sambil tersenyum malu.
“Eeeh, iya Mbak, karena keasyikan ngobrol, Mbaknya jadi di cuekin.”
“Ya, ya, nggak papa Mbak.” Ucap bela dengan senyum dibibirnya, meskipun sebenarnya hatinya mendongkol.
“Mari, Mbak, saya antar.”

Kedua cewek itupun kembali masuk kedalam rumah, sementara Natan mulai mendengkur di kamarnya. Sikap orang-orang desa tuanrumahnya itu samasekali tidak mengganggu fikirannya.
Bahkan Natan samasekali tidak memikirkan badannya yang mungkin masih bau karena belum mandi. Cowok itu begitu cuek, dan apa adanya.
“Mas Natannya di mana?” Tanya Sekar Mirah  pada Bela.
“Nggak tau, mungkin Ia tidur.” Jawab Bela.
“Apa Mbak Bela bisa membangunkannya? Sebentar lagi magrib, menurut kami orang kampung pamali kalau magrib-magrib tidur.” Bela mengerutkan dahi mendengar ucapan Sekar Mirah. Tapi di jawabnya pertanyaan Sekar Mirah itu.
“Ya, ya, nanti saya bangunkan dia lewat telpon Mbak.” Jawab Bela.
“Tolong ya Mbak, Ayah bisa marah soalnya kalau di rumahnya ada yang tidur magrib-magrib.”
“Ya, ya, Mbak.” Jawab Bela, lalu Bela masuk ke kamarnya, dan Sekar Mirahpun bablas ke ruang depan, mungkin mau melanjutkan ngerumpinya, apa mau apa, Bela nggak tau, dan memang Bela nggak mau tahu.

Sesampainya Kembali di dalam kamarnya, Bela mengambil HP-nya dan langsung menelpon Natan.
“Halo, ada apa? Bel?”
“Hey bangun lah, tuanrumah kita bisa marah nanti, kalau magrib-magrib ada yang tidur di rumahnya.”
“Iya, iya, ini aku udah bangun.” Jawab Natan yang masih setengah memejamkan matanya.
“Kita solat Magrib berjamaah.” Ucap Bela.
“Aku belum mandi, Bel.”
“Cepatlah, bangun mandi, nggak enak kita di rumah orang.”
Lebih nggak enak lagi kalau kita di rumah tawon, Bel.”
“Huh.” Bela mencibir.
“Cepatlah bangun, nggak usah bercanda.” Ucap Bela yang sebenarnya hatinya berdebar-debar.
“Iya, Iya. Aku bangun sekarang.” Ucap Natan, yang langsung menutup telponnya.
Bela langsung menggemas-gemas gulingnya. Sebelumnya, Natan nggak pernah bercanda seperti ini. “Semoga ini awal Natan akan suka sama aku. Kalau memang aku nggak berhasil, berarti memang Natanlah yang katarak, nggak bisa melihat cewek secantik aku. Apa Natan mungkin Homo, yang nggak bisa suka sama lawanjenis, tapi sukanya sama yang sejenis.” Gumam Bela sendiri.

Setelah Natan mandi, solat magrib berjamaah, Natan dan Belapun langsung menuju ke ruang makan keluarga untuk makan malam bersama.
“Eh, mari, mari, Mas Natan dan Mbak Bela.” Ucap Pak Rasimun.
“Silahkan Mas dan Mbak, kita makan apa adanya.” Ujar Bu Warsini.
“Sini Mbak, duduk sini.” Celetuk Sekar Mirah mempersilahkan Bela duduk di sampingnya.
“Ya, beginilah Mas, makanan di desa, nggak seenak di kota.” Ucap Parjo.
“Di kotapun saya nggak suka makan yang enak-enak, Mas.” Jawab Natan.
“Apa Mas Natan dan Mbak Bela sudah siap bekerja di sawah bersama kami besok?” Tanya Pak Rasimun.
“Kalau saya sudah siap lahir batin, Pak, Nggak tau dengan Mbak Bela.” Jawab Natan.
“Saya juga insya Allah siap, Pak, ya, meskipun saya tidak biasa bekerja di sawah, tapi akan saya coba.” Ujar Bela.
“Kalau Mbak Bela nggak biasa bekerja di sawah, masak aja sama Ibu di rumah.” Ucap Bu Warsini.
“Iya, Mbak, benertuh kata Ibuku, daripada Mbak Bela disawah panas-panasan.” Celetuk Sekar Mirah.
“Iya, gitu juga boleh, nanti tapi Mbak Bela yang menghantarkan makanannya kesawah, kalau sudah waktunya makan siang.” Ujar Parjo menambahi.
“Ya gitu juga boleh.” Ucap Natan yang sedaritadi hanya mengangguk-angguk.
“Lalu saya bekerja disawah hanya sendiri, apa beberapa orang, Pak?” Tanya Natan sama Pak Rasimun.
“Mas Natan bekerja sendiri, tapi tenang pekerjaan itu ringan, hanya menyemprot tanaman padi agar tidak kena hama, obat semprotnya sudah saya siapkan di dalam tangki, jadi besok Mas Natan tinggal membawanya.
“Baik, Pak.” Jawab Natan.
“Apa Mas Natan tidak perlu bantuan misalnya cara menyemprotnya?” Tanya Parjo.
“Untuk ini tidak dulu, Mas. Kalau hanya menyemprot padi, saya sedikit tahu karena dulu waktu saya masih kecil saya tinggal di desa, dan saya sering ikut kakek saya bertani.” Parjo mengangguk-angguk.
“Ooh, ya, bagus kalau gitu, Mas.” Ucap Pak Rasimun.
“Kehadiran Mas dan Mbak sangat membantu kami disini.” Ucap Bu Warsini sambil tersenyum ramah.
“Yak sudah, barangkali Mas Natan ingin beristirahat, besok kan sudah mulai kerja.” Ucap Pak Rasimun.
“Nggak Pak, saya ingin duduk-duduk diluar dulu, melihat-lihat suasana malam di pedesaan.” Jawab Natan.
“Oh, kalau gitu silahkan, Mas.”
“Terimakasih, Pak.”

Natan duduk di beranda depan rumah Pak Rasimun. Dalam hatinya berkata: “Beginilah suasana malam di pedesaan, suasana yang aku rasakan waktu aku kecil dulu.”
Natan membayangkan waktu hidup di desa, bersama kakek dan neneknya. Membayangkan saat-saat bermain bersama teman-teman kecilnya.
“Hmm, bagaimana sekarang kabarnya Bejo, Trianto, dan Warno? Dulu mereka selalu main di sawah sama aku. Apa Bejo sekarang perutnya masih buncit? Apa Warno masih suka melorot-melorotin celana temannya? Apa Trianto masih suka menangis karena pantatnya bisulen? Tentu sekarang mereka sudah besar-besar.”
Natan masih asyik melamun membayangkan masakecilnya yang bahagia. Hidup di desa bersama kakek dan neneknya karena orangtuanya di kota selalu sibuk dengan pekerjaannya, sehingga Natan tidak terurus jika harus hidup di kota bersama ayah dan ibunya.

Sementara Bela, malah asyik dengan laptop-nya di kamar. Namun meskipun demikian pikiran Bela selalu tertuju pada Natan. Sehingga lama-lama Bela pusing sendiri. “Huh, kenapasi? Natan ada di pikiran aku terus?” Ucap Bela dalam hati.
Bela mematikan laptop-nya, lalu merebahkan badannya di kasur. Matanya memandang ke arah langit-langit kamar.
“Apa ya alasannya supaya aku bisa keluar dan duduk sama Natan?” Ucap Bela dalam hati. Ya, gadis itu sedang berpikir keras agar bisa mendekati Natan.
Setelah otaknya terus di putar memikirkan bagaimana alasannya supaya bisa keluar dan duduk bersama Natan, gadis itu akhirnya ngantuk juga. Pikirannya samasekali tidak menemukan cara yang tepat agar bisa keluar dan mendekati Natan.

Sementara di beranda Rumah Pak Rasimun, Natan masih saja asyik dengan lamunannya. Pikirannya terus membayangkan bagaimana masa-masa kecilnya. Natan tidak menyadari, bahwa pintu rumah itu terbuka, dan seorang gadis keluar dari pintu itu.
Gadis itu sejenak memperhatikan Natan yang sedang melamun, tapi gadis itu langsung membuang pandangannya jauh-jauh saat Natan menyadari kehadirannya.
“Eh, Mbak sekarmirah.” Ucap Natan sambil tersenyum. Sekarmirah membalas senyuman Natan.
“Nggak tidur, Mas Natan?” Tanya Sekar Mirah.
“Sebentar lagi lah, masih betah melihat-lihat pemandangan desa di malam hari.”
“Nggak ada yang asyik buat dilihat, Mas, semuanya hanyalah rumah penduduk dan jalanan sempit di desa, nggak ada yang menarik.” Ujar Sekar Mirah.
“Iya, tapi aku suka pemandangan desa di malam hari seperti ini, aku dulu orang desa.”
Oh iya? Mas Natan?
“Iya.”
“Memangnya Mas Natan dulu tinggal di desa apa? Dan di daerah mana?” Tanya Sekar Mirah semakin jauh.
“Aku dulu tinggal di desa Pondok Jati, itu di daerah Tegal Jawatengah.”
“Wah, jauh dari sini, Mas.” Kata Sekar Mirah.
“Iya, kalau dekat dari sini pasti aku udah main ketempat kakek dan nenekku.”
“Memangnya Mas Natan nggak sering main kesana?”
“Ya sering si, tapi paling kalau libur lebaran, apa libur tahun baru.”
“Nggak pengin main kesana, Mas? Misalnya minggu ini, kalau mas Natan udah hampir selesai menjalankan tugas sekolahnya? Capek kan, kalau seminggu ful harus kerja terus? Lagian desa Pondok Jati nggak terlalu jauh banget dari sini.”
Mendengar ucapan Sekar Mirah, Natan terdiam sejenak. Tapi akhirnya di jawabnya juga pertanyaan gadis itu.
“Pengin juga si, Mbak Sekar nggak pengin ikut?”
“Pengin juga si Mas, tapi kalau Ayah sama Ibuku mengizinkan.”
“Tentu, aku seneng banget kalau aku bisa kerumah kakek dan nenekku bareng sama Mbak Sekar, apalagi Mas Parjo juga ikut.”
“Wah, kalau Mas Parjo kayaknya nggak mungkin bisa ikut, Mas. Soalnya kan dia juga kerja di balai desa.” Natan mengangguk-angguk mendengar jawaban Sekar Mirah. Lalu kemudian katanya:
“Ya nggak papalah, Mas Parjo nggak bisa ikut, tapi setidaknya Mbak Sekar ikut itu udah bersyukur banget aku, soalnya biar menemani Bela, kalau aku dan Bela berdua takutnya aku dikira mau ngenalin calon istri sama nenek dan kakek.” Sekar Mirah tersenyum mendengar ucapan Natan. Lalu kemudian katanya:
Tidurlah dulu, Mas, ini sudah malam, ntar besok kesiangan loh.”
Natan mengangguk, kemudian nggak lama kemudian mereka berduapun masukk kedalam kamar masing-masing.
Beranda rumah Pak Rasimun sudah sepi, seperti suasana malam Desa Karang Atos yang sudah sepi semakin larut malam.
Nggak ada suara orang satupun, yang ada hanya suara anjing dan binatang malam yang ramai mewarnai suasana malam di desa Karang Atos.




Lalu apakah Natan dan Bela akan betah selama tinggal di desa itu?


Ikuti kelanjutan kisahnya di part selanjutnya. Sampai jumpa.

MUSIM GUGUR CINTA

Jika teringat masa-masa beberapa tahun yang lalu, aku memang berada didalam suatu taman cinta yang bunganya harum semerbak mewangi.

Aku terbuai akan keindahannya, dan rasanya aku ingin selalu berada di waktu itu.

Namun apapun yang terjadi, hukum alam harus tetap berlaku.

Ada keindahan, pasti ada keburukkan, ada musim semi, pasti ada musim gugur.

Seperti halnya siang yang akan berganti malam, dan kemballi lagi siang di hari yang baru.

Namun didalam hal ini, sungguh aku tak dapat terima. Mengapa begitu cepatnya musim ini tiba di hatiku? Ya, musim gugur cinta yang mengerikan.
Musim gugur cinta yang sungguh membuat hatiku terasa runtuh.
Banjir airmata yang menghanyutkan sejuta harapan dan impian.
Dan, matilah sudah rasa cinta ini, bunga-bunga cinta yang dulu mekar, kini telah layu dan menguncup, karena tak sanggup lagi menahan panasnya taman hati yang telah di landa bencana glombang asmara beracun yang menghancurkan seluruh taman cinta dalam jiwa.

Akankah adalagi musim semi cinta yang menyejukan seluruh jiwa?
Aku sebagai penikmat madu cinta yang manisnya melebihi segalanya selalu menanti musim semi cinta akan tiba.

Aku akan mereguk madunya sebagai penghilang rasa dahaga, sehingga taman hati yang gersang akan segera sejuk kembali.

Dan kini aku akan menjalani tidur panjangku, sampai musim semi cinta kembali tiba, dan aku akan terbangun di hari yang baru.

Hari yang cerah, dan dihiasi oleh bunga-bunga cinta yang selalu mekar sepanjang zaman.

Selamat jalan bungaku yang indah, selamat terbenam mentariku yang cerah, aku akan selalu setia menantimu terbit kembali, dihari esok yang lebih cerah dari hari ini.

Ini dia sob, 4 asupan sahur agar sobat tidak lemas menjalani puasa di hari pertama.

Asalamuallaikum WRWB.
 Hey, gimana kabarnya paramitra setia Mitradifabel? Tentunya baik dan lagi berbahagia selalu ya? Wah, nggak terasa ya sob, tau-tau bulan Ramadan udah kembali menyapa kita, dan besok kita sudah mulai puasa di hari yang pertama.
Tapi apakah sobat sudah menyiapkan asupan yang sehat untuk sahur nanti? Supaya puasa nggak gampang lemas, asupan makan sahur kita yang harus di perhatikan loh sob, maka dari itu, aku akan membagikan artikel yang sangat bermanfaat, tentunya buat sobat yang besok sudah mulai puasa di hari yang pertama dong. Nah silahkan sob, langsung di baca artikelnya sekarang juga. SELAMAT MEMBACA

4 Asupan untuk Sahur Agar Tidak Lemas di Hari Pertama Puasa





Tidak sedikit orang yang terlihat lemas saat baru menjalani hari pertama puasa. Hal itu dipengaruhi oleh perubahan pola makan Anda terutama bagi yang selalu makan teratur tiga kali sehari ditambah camilan. Agar tubuh tetap bugar dan tidak lemas di hari pertama puasa, konsumsi empat asupan ini saat sahur yang bisa meningkatkan energi Anda seharian.



1. Air Lemon



Menurut pakar food combining, Erikar Lebang, dalam bukunya yang berjudul 'Food Combining di Bulan Ramadhan', mengonsumsi satu gelas air hangat yang diberi sedikit perasan jeruk lemon atau jeruk nipis saat sahur baik untuk tubuh. Air lemon ampuh untuk mendetox liver. Selain itu, air lemon juga akan meningkatkan oksigen dan kalsium dalam hati yang akhirnya mempengaruhi kadar oksigen dalam darah.



2. Minum Ekstra Air Putih



Saat berpuasa Anda sering disarankan minum ekstra air putih oleh para ahli. Air putih berguna untuk menyediakan cadangan cairan selama berpuasa. Hindari kopi dan teh terlalu banyak karena bisa menyebabkan dehidrasi. Selain itu, mengonsumsi gula hanya akan membuat tubuh cepat lemas. Gula memang bisa memberi tambahan energi dengan instan, sayangnya itu adalah energi palsu.



"Gula membuat kadar gula darah cepat naik, tapi cepat juga turunnya. Akibatnya tubuh jadi cepat lemas. Sebaiknya minum jus buah alami tanpa gula," papar praktisi gaya hidup sehat, dr. Phaidon L. Toruan.



3. Protein Sehat



dr. Phaidon menyarankan agar mengonsumi protein sehat saat sahur. Apa saja protein sehat itu? Ayam, ikan, telur atau daging bisa menjadi pilihan. Perhatikan cara pengolahannya, sebisa mungkin hindari makanan yang digoreng karena lemak dari minyak bisa membuat Anda mudah mengantuk. Masaklah makanan dengan cara direbus, kukus, pepes atau panggang.



4. Buah



Buah kaya vitamin dan mineral yang berfungsi mengubah cadangan makanan sebagai sumber energi serta membantu meningkatkan metabolisme tubuh. Anda disarankan untuk mengonsumsi tiga porsi buah seperti melon, jeruk atau pir sedikitnya 15 menit sebelum makan nasi.

Semoga bermanfaat, dan selamat menunaikan ibadah puasa.

SECERCAH CINTAKU UNTUKNYA PART 1

Hey, met apasaja buat sobat semua paramitra setia Mitra Difabel.
Tentunya yang masih selalu setia berkunjung ke Gubug reot ini dong.
OK sob, dalam kesempatan ini aku membawa oleh-oleh cerbung nih, judulnya SECERCAH CINTAKU UNTUKNYA.
Dalam kisah ini mengisahkan tokoh utama seorang pemuda tampan kutubuku, yang selalu cuek sama cewek-cewek manis yang berusaha mendekatinya.
Ya, namun siapa tahu, bahwa dibalik kegemaran pemuda itu membaca buku dan kecuekannya sama cewek-cewek yang mendekatinya, ternyata didalam hati pemuda itu ada satu nama wanita yang sangat sulit dilupakan sama pemuda itu loh sob.
Sobat penasaran dengan kisah selengkapnya? Yuk ah Langsung kita intip bareng-bareng kisah selengkapnya.
Selamat Membaca.

SECERCAH CINTAKU UNTUKNYA BY MUHAMMAD AINUL YAQIN



Hidup, ya, hidup ini memang penuh likaliku. Terkadang ada bahagia yang teramat sangat, tapi juga ada duka yang juga teramatsangat.
Terkadang orang yang lagi berbahagia selalu tertawa sampai lupa segala-galanya, dan yang lagi berduka selalu meneteskan airmata, bahkan sampai nyawapun bisa melayang.

Namun apakah mereka tidak mengerti? Jika apabila Tuhan sudah berkehendak semuanya dapat berubah? Bahagia bisa menjadi duka, dan begitupun sebaliknya.
Hanya kebanyakan manusia tidak mau bersabar menunggu saatnya tiba, dan tidak mau menyadari bahwa saatnya juga nanti pasti akan tiba.
Kebanyakan orang akan cepat merasa terlena jika sedang berbahagia, dan orang akan cepat pula mengambil keputusan jika terlalu berduka. Bahkan jika dukanya terlalu berat, tidak jarang orang yang mengambil jalan pintas, yaitu bunuhdiri.

Seperti pagi ini, Natan sudah di suguhi bacaan seorang wanita yang bunuhdiri dengan cara memotong urat nadinya sendiri, dan modus wanita itu bunuhdiri karena jeratan ekonomi.
Natan terus memelototi koran yang dibelinya saat di perjalanan menuju sekolah tadi dengan dahi berkerut. “Hmm, ekonomi seret kok malah kendat. Kalau ekonominya seret ya kerja dong, jangan malah kendat, dasar orang malas, maunya kaya, tapi kerjaannya hanya tidur. Yaudah tidur aja selamanya. Toh itu sudah menjadi pilihanmu kan?” Gumam Natan dalam hati, seakan-akan hatinya berbicara pada gambar wanita yang bunuhdiri itu, yang ada di koran.
Ya, Natan seorang siswa SMA Bangsa Jaya Kota Tegal memang gemar sekali membaca.
Hari-harinya selalu ditemani buku didepan matanya. Bahkan sangkin gemarnya Natan membaca, Natan sampai merelakan sebagian uang sakunya yang tidak seberapa untuk membeli koran setiap pagi, saat mau berangkat kesekolah. Hasilnya, Natan selalu tahu berita-berita terhangat setiap harinya.

Sesudah membaca koran yang dibelinya dijalan tadi, Natan melipat koran itu, dan menyimpannya didalam tas. Lalu, Natan duduk tenang di bangku kelasnya, sambil menikmati beberapa potong roti dan teh manis yang dibawanya dari rumah.
Kelas sudah ramai pagi ini, semua siswa kelihatannya sudah hadir semua, tinggal menunggu jam masuk saja.
Natan masih duduk di bangkunya sambil menikmati rotinya yang tinggal sepotong. Tiba-tiba Natan di kejutkan oleh suara cewek dari luar kelas yang memanggil-manggil namanya. Katanya:

“Natan, adakah natan didalam kelas?”
Ucap cewek itu yang mulai kelihatan wajahnya di pintu kelas Natan, kelas 11 A.
”Hmm, ada apakah Bela pagi-pagi mencariku.” Gumam Natan dalam hati, dan dengan tersenyum Natan menjawab panggilan cewek itu.
“Ada apa kamu pagi-pagi sudah mencariku, Bel?” Tanya Natan pada Bela.
“Aku Cuma mau mengabarkan, Tan, bahwa nanti jam istirahat kedua ada rapat osis.”
Natan tersenyum, agaknya dia baru ingat, bahwa Bela pengurus osis bagian HUMAS.
“Rapat membahas apa? Agaknya sangat penting sekali, sampai nggak menunggu jam pelajaran selesai?” Tanya Natan penasaran. Lalu, dengan menarik nafas terlebih dahulu, dijawabnya pertanyaan Natan oleh Bela sang HUMAS.
“Ini membahas tentang acara ulangtahun sekolah kita nanti, Tan. Sekaligus mengumpulkan dana dari anak-anak.”
“Hmm, agaknya ketua osis kita cukup matang untuk membuat acara ulangtahun sekolah kita tahun ini sangat meriah.”
“Ya, untuk itu aku harap kamu selaku bendahara OSIS bisa menghadiri rapat siang nanti, jangan malah nongkrong di warung soto Mbak Sari.”
“Iya, iya. Aku pasti menghadiri rapat itu.”
“Ok, aku tunggu ya.”
“Huh, bukannya yang berhak menunggu aku ketua osis kita Ucok?”
Bela mencibir, lalu humas osis yang cantik itu ngeloyor pergi.
Dengan tersenyum-senyum sendiri, Bela terus menyusuri jalan di sekolahnya dari kelas Natan menuju ke kelasnya sendiri.
“Hem, sebenarnya bendahara OSIS yang bernama Natan itu cukup tampan juga, lumayan kalau dijadikan gebetan.” Ucap Bela dalam hati, sambil masih tersenyum-senyum sendiri. Tapi hatinya kembali menggumam, dan diselimuti pertanyaan-pertanyaan nakal.
“Tapi mengapa cowok yang bernama Natan itu selalu menjauh dari cewek? Didepan matanya selalu ada bahan bacaan, entah itu buku, koran, novel, atau apalah, yangpenting bisa dibaca. Bahkan bisa dikatakan Natan seorang cowok kkutubuku berat. Apa nggak terbersit sedikitpun didalam pikirannya untuk mendekati cewek? Mendapatkan kekasih seperti teman-teman lainnya. Mengapa? Bahkan terkadang Natan bersikap begitu dingin sama cewek yang berusaha menarau perhatian lebih padanya.” Bela semakin asyik dengan lamunannya tentang natan. Lalu kembali hati gadis itu mengucapkan tekat yang diyakininya suatu saat akan berhasil. Katanya:
“Biarlah, akan aku terus coba mendekati cowok itu dengan sejuta pesonaku, akan aku buat seorang Natan bertekuk lutut pada Bela. Akan aku buat dia mengemis-ngemis cinta Bela.”

Lamunan Bela dibuyarkan oleh suara cewek yang menyapanya. Cewek itu menyapa Bela dengan suara khasnya yang cempreng, sehingga Bela agak tersentak kaget.
“Wooooy! Jalan sambil tersenyum-senyum sendiri. Loh dah gila ya Bel?”
“Nagetin aja si Loh Re? Untung gueh nggak jantungan.” Ucap Bela pada temannya yang bernama Renita itu.
“Habis Loh si, jalan sambil senyum-senyum sendiri.” Bela tersenyum, lalu mereka berdua masuk kedalam kelas.
Setelah jam istirahat kedua, Natan jalan terburu-buru menuju ke ruang OSIS. Rupanya Natan terlambat 5 menit, sehingga rapat sudah dimulai. Dengan pelan-pelan Natan mengetuk pintu ruang OSIS yang tertutup rapat, namun didalamnya pastilah sudah banyak penghuninya yang sudah datang lebih dulu dari Natan.
“Mengapa terlambat, Tan?” Tanya Ucok sang Ketua OSIS.
“Hmm, maaf, tadi aku habis membeli alat tulis diluar sekolah, karena koprasi sekolah kita tutup.” Jawab Natan, lalu Ucokpun tidak memperpanjang masalah itu.
“Baiklah, berhubung ada teman kita yang sedikit terlambat mengikuti rapat ini, aku akan mengulangi ucapanku yang tadi barusaja aku ungkapkan pada teman-teman anggota Osis semua.” Ucap ucok.
“Seperti yang teman-teman ketahui, bahwa bulan ini sekolah kita akan merayakan pesta yang cukup besar, yaitu peringatan hari ulangtahun sekolah kita yang tercinta ini. Apakah teman-teman sudah tahu berapa usia sekolah kita ini?”
48 Tahun.” Jawab semua anak-anak peserta rapat serentak.
“Nah, untuk itu, saya ingin mengajak semua teman-teman anggota OSIS, bahkan yang bukan anggotaOSIS, untuk berpikir sejenak. Sekolah kita sudah cukup tua, bahkan jika sekolah ini manusia, pastilah manusia itu sudah menjadi seorang Bapak yang bijak, apa mungkin seorang Ibu yang lembut. Maka seperti sekolah ini, dengan Ibu Bapak Gurunya yang selalu trampil mendidik murit-muritnya, berhasilah sekolah ini menjadi sekolah faforit di Kota ini, yang mampu membawa siswa siswi menjuarai berbagai macam perlombaan.” Semua anak-anak peserta rapat bertepuktangan.
“Namun dari dulu jika sekolah ini merayakan hari jadinya, selalu sama. Nggak pernah berbeda. Selalu acaranya itu-itu saja, meniup lilin, memotong tumpeng, dan memeletuskan balon-balon. Bukankah acara itu hanya akan menghambur-hamburkan uang? Bukankah acara itu tidak ada manfaatnya? Untuk itu pada OSIS pereode kali ini akan merencanakan acara yang berbeda. Adapun acara yang ingin osis adakan yaitu: penanaman pohon dilingkungan sekolah, bersih-bersih bersama, dan ini yang paling tidak biasa. OSIS akan mengirimkan 2 orang anak untuk terjun kepedesaan terpencil, untuk mengikuti kegiatan belajar bertani bersama orang-orang petani yang ada di pedesaan itu. Dan untuk hal ini, kami akan memberangkatkan saudara Natan, dan saudari Bela. Nah berhubung semua orang yang tertunjuk ada disini, saya harap anda berdua siap. Dan bisa memberi alasan yang jelas apabila tidak siap.” Natan mengerutkan dahi, begitupun Bela. Lalu, tidak lama kemudian, Natan membuka suara.
“Maaf, mas Ucok, bukannya saya bendahara OSIS, dan setahu saya Mbak Bela juga bagian HUMAS didalam kepengurusan OSIS. Kalau saya dan Mbak Bela yang berangkat, siapa yang akan mengurus tugas-tugas kami?” Sejenak Ucok sang ketua OSIS mengerutkan dahi. Lalu, dijawabnya pertanyaan Natan itu.
“Hmm, Ya, ya. Aku tahu itu, Saudara Natan. Tapi tenanglah, tugas-tugas anda disini akan digantikan oleh wakil bendahara dan wakil humas.”
“Lalu bagaimana dengan pelajaran kami?” Kali ini Bela yang membuka suara.
“Tenang Mbak Bela, selama satu minggu ini semua pelajaran akan di kosongkan, karena selama satu minggu ini sekolah akan mengadakan berbagaimacam perlombaan.”
“Baiklah, aku menerima tugas itu.” Ucap Bela.
“Di desa manakah kami akan di tugaskan?” Ujar Natan menimpali.
“Apakah kalian berdua setuju?” Tanya Ucok.
“Ya, kami setuju.” Ucap Bela dan Natan berbarengan.
“Baiklah, kalian akan ditugaskan di sebuah desa yang cukup terpencil, namanya desa Karang Atos. Warga desa disana sebagian besar petani, dan Mas Natan juga Mbak Bela akan belajar bagaimana cara menjadi petani yang baik, dan bagaimana susah payahnya menjadi petani.”
“Huh, aku samasekali nggak berminat untuk menjadi petani, amit-amit deh. Kalausaja aku nggak berpikir ini kesempatan buat mendekati Natan, aku nggak akan mau di berangkatkan ke desa itu.” Gumam Bela, namun hanya didalam hati.
“Maaf Mas OSIS, aku ada sedikit pertanyaan nih.” Ucap Cempaka yang menjabat sebagai seksi kesenian dalam kepengurusan OSIS. Semua mata kini memandang ke arah Cempaka karena penasaran, apa yang akan ditanyakan gadis itu.
“Ya, ya, silahkan Mbak Cempaka, apakah yang ingin anda tanyakan?” Jawab Ucok.
“Begini Mas OSIS, selama di desa, apakah Mbak Bela serumah dengan Mas Natan?”
“Ooo, ya, Mbak Cempaka, anda betul alias tidak salah. Tapi saya yakin yang ada di pikiran anda salah. Pasti sekarang anda berpikir bahwa saat di desa Mas Natan dan Mbak Bela akan tinggal satu rumah, dan nanti mereka akan berbuat yang tidak-tidak. Bukankah begitu yang ada didalam pikiran anda Mbak Cempaka?”
Cempaka mengerutkan keningnya. Mukanya mendadak merah karena ternyata Ucok mampu menebak apa yang ada di dalam pikirannya.
“Biarkan mereka saturumah, tapi mereka saya jamin tidak akan mampu berbuat apapun, karena kamar mereka terpisah jauh. Terlebih mereka akan tinggal di rumah Kepala Desa setempat.”
Cempaka mengangguk-angguk, Lalu setelah itu Ucok sang OSIS segera menutup rapat.

Setelah rapat di tutup, semua anak-anak anggota OSIS itu langsung berebut untuk lebih dulu keluar dari ruang rapat itu.




Lalu apakah Natan dan Bela akan berhasil menjalankan tugas dari program OSIS itu?
Dan bagaimanakah keadaan keduanya setelah berada di desa Karang Atos?
Ikuti kelanjutan kisahnya di Part berikutnya. SAMPAI JUMPA.

Technology

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Arsip Blog

Cari Yang Ada Saja Ya Sob

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Author Details

Templatesyard is a blogger resources site is a provider of high quality blogger template with premium looking layout and robust design. The main mission of templatesyard is to provide the best quality blogger templates which are professionally designed and perfectlly seo optimized to deliver best result for your blog.

Breaking

Fashion

News

Food

Sports

Food

Technology

Featured

Videos

Mengenai Saya

Seorang Tunanetra dari tegal yang sangat hobby menulis

Follow Us @templatesyard

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Tags

Music (1)

Categories

Sponsor

AD BANNER

Recent News

About Me

authorHello, my name is Jack Sparrow. I'm a 50 year old self-employed Pirate from the Caribbean.
Learn More →

Connect With us

Comments