SECERCAH CINTAKU UNTUKNYA PART 2

Hey, hello paramitra setia mitra difabel.
Aku kembali muncul menyapa kalian semua nih, tentunya dengan membawa kelanjutan cerita yang berjudul SECERCAH CINTAKU UNTUKNYA dong.
Kali ini sudah di part yang kedua ya sob, dan bagi sobat yang penasaran, yuk ah sob, langsung saja kita intip ceritanya, sambil ngabuburit.
SELAMAT MEMBACA

SECERCAH CINTAKU UNTUKNYA BY MUHAMMAD AINUL YAQIN


Pagi ini adalah hari keberangkatan Bela dan natan ke Desa Karang Atos. Sekolahpun mengadakan doa bersama untuk melepaskan kepergian mereka.
Setelah doa bersama selesai dilaksanakan, maka Bela dan Natanpun siap berangkat. Pak Syarif sebagai Kepala Sekolah yang mengantarkan mereka sampai ke Desa Karang Atos.
Selama dalam perjalanan Natan benar-benar diam seribu bahasa. Ia tidak banyak bicara, jika memang tidak benar-benar perlu.
“Hmm, cowok ini memang benar-benar dingin dan pendiam.” Gumam Bela dalam hati.
“Tapi lihatlah, pasti di desa nanti akan aku buat Dia benar-benar bertekuk lutut padaku.” Gumamnya percaya diri.
        “Mas Natan tadi sarapan nggak?” Tanya Bela sambil membuka tas kecilnya. Agaknya dia mau mengambil makanan semacam roti apa mungkin biskuit dari dalam tasnya.
“Sarapan, Mbak. Ibuku selalu mengingatkan aku untuk sarapan jika aku hendak bepergian jauh.” Jawab Natan. Bela mengangguk, lalu suasana didalam mobil itu kembali sepi seperti semula. Tidak ada suara manusia yang bercakap, yang ada hanya suara deru mesin mobil dan suara tlakson kendaraan dikeramaian jalan raya yang terdengar samar-samar dari dalam mobil.

Setelah hampir 2 jam mereka menempuh perjalanan, maka sampailah mereka di sebuah pedesaan yang sangat terpencil, namun suasana pedesaan itu benar-benar masih sejuk dan asri.
Udara yang segar, sungai yang mengalir jernih, dan persawahan yang hijau luas membentang. Gunung yang tinggi mencakar langit menambah indah pemandangan desa itu. Jika di kota terdengar suara tlakson yang selalu memekakan telinga, maka di desa ini terdengar kicau burung yang memanjakan telinga.
Inilah desa Karang Atos. Desa di wilayah pegunungan yang jauh dari keramaian kota, desa yang menenangkan dan penduduknya rukun serta makmur.
Natan dan Bela serta Pak Syarif tiba di desa itu sekitar pukul 4 sore. Pak Rasimun, selaku kepala desa Karang Atos, yang rumahnya akan ditumpangi Natan dan Bela, menyambut mereka dengan ramah. Tidak ketinggalan pula Bu Warsini, istri Pak Rasimun, dan kedua anaknya yang bernama Parjo, dan anak perempuannya yang bernama Sekar mirah, ikut menyambut kedatangan Natan dan Bela.
“Saya titip anak didik saya Pak Kades.” Ucap Pak Syarif pada Pak Rasimun saat hendak meninggalkan Natan dan Bela.
Lalu sesudah itu, Pak Syarif pamit untuk kembali kekota.

“Mari, Mas, biar aku antar ke kamar, siapatau masnya mau bersiap untuk mandi, dan sesudah itu masnya pengin beristirahat. Nanti Mbaknya biar adek saya Sekar Mirah yang menghantarkan kekamarnya.” Ucap Parjo pada Natan dan Bela dengan ramahnya.
“Eh, iya, terimakasi Mas, terimakasih.” Jawab Natan tak kalah ramahnya. Sementara Bela, hanya terdiam seperti orang yang kebingungan. Sehingga Parjopun memanggil adiknya yang bernama Sekar Mirah.
“Sekar! Nih, tolong hantarkan Mbak Bela kekamarnya.” Panggilan Parjo tidak hanya mengejutkan Sekarmirah, tapi mengejutkan Pak Rasimun dan Bu Warsini yang masih mengobrol dengan tetangganya di halaman rumahnya, setelah menghantarkan kepergian Pak Syarif tadi.
“Hmm, agaknya memang kebiasaan semua orang peddesaan, mengerumpi dengan tetangganya.” Gumam Natan dalam hati, sementara Bela hanya terdiam seperti orang dongo yang tak tahu apa-apa.
“Mari, Mbak, aku hantarkan Mbak kekamar.” Ucap Sekar Mirah.
“EEH, iya, terimakasih Mbak.” Jawab Bela.

Setelah sudah berada di kamarnya, Bela sedikit bertanya-tanya dalam hati: mengapa sikap Pak KADES dan istrinya benar-benar berbeda? Tadi waktu Pak Syarif masih berada disini mereka benar-benar ramah, setelah Pak Syarif udah pulang mengapa mereka seperti lupa kalau di rumahnya ada tamu? Mereka malah asyik ngerumpi dengan tetangganya, dan yang menghantar aku juga Natan ke kamarnya malah anaknya yang cowok dan yang cewek itu. Oooh, rupanya begini sikap orang kampung?
Bela terus bergumam dalam hatinya, sementara Natan tak acuh dengan sikap apapun yang di hadapinya.
Natan malah asyik membaca-baca buku yang dibawanya, sambil merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Sementara Bela masih gelisa di kamarnya, karena selain memikirkan sikap sang tuan rumah, Ia juga dari di mobil sudah terasa ingin pipis yang terus di tahannya.
“Kalau aku tahan terus, bisa-bisa aku ngompol nih, duh, biarlah aku cari gadis yang bernama Sekar Mirah tadi, aku benar-benar nggak kuat lagi pengin pipis.” Gumam Bela, lalu dengan berjalan terjingkat-jingkat Bela keluar dari kamar, dan mencari Sekar Mirah.
Dari dalam rumah samar-samar terdengar suara Pak Rasimun dan Bu Warsini yang masih saja mengerumpi dengan tetangganya.
Sesekali Mereka tertawa, kemudian terlibat lagi dengan obrolan yang Bela benar-benar tidak mampu mendengarnya dengan jelas. Karena selain mereka jauh, mereka ngobrol menggunakan bahasa jawa yang Bela samasekali tidak mengerti artinya.
“Permisi Pak, Bu.” Ucap Bela dengan sopan saat bela sudah berada juga di beranda rumah itu. Namun sepertinya mereka tidak ada yang melihat kehadiran Bela, sehingga mereka kaget.
“Eh, iya Mbak, ada yang bisa saya bantu?” Ucap Sekar Mirah.
“Maaf Mbak, saya mau tanya.” Bela tidak melanjutkan kata-katanya, sehingga sekar Mirah mendekat.
“Iya, Mbak, ada yang bisa saya bantu?”
“Saya mau tanya, dimana kamarmandi?” Ucap Bela sambil tersenyum malu.
“Eeeh, iya Mbak, karena keasyikan ngobrol, Mbaknya jadi di cuekin.”
“Ya, ya, nggak papa Mbak.” Ucap bela dengan senyum dibibirnya, meskipun sebenarnya hatinya mendongkol.
“Mari, Mbak, saya antar.”

Kedua cewek itupun kembali masuk kedalam rumah, sementara Natan mulai mendengkur di kamarnya. Sikap orang-orang desa tuanrumahnya itu samasekali tidak mengganggu fikirannya.
Bahkan Natan samasekali tidak memikirkan badannya yang mungkin masih bau karena belum mandi. Cowok itu begitu cuek, dan apa adanya.
“Mas Natannya di mana?” Tanya Sekar Mirah  pada Bela.
“Nggak tau, mungkin Ia tidur.” Jawab Bela.
“Apa Mbak Bela bisa membangunkannya? Sebentar lagi magrib, menurut kami orang kampung pamali kalau magrib-magrib tidur.” Bela mengerutkan dahi mendengar ucapan Sekar Mirah. Tapi di jawabnya pertanyaan Sekar Mirah itu.
“Ya, ya, nanti saya bangunkan dia lewat telpon Mbak.” Jawab Bela.
“Tolong ya Mbak, Ayah bisa marah soalnya kalau di rumahnya ada yang tidur magrib-magrib.”
“Ya, ya, Mbak.” Jawab Bela, lalu Bela masuk ke kamarnya, dan Sekar Mirahpun bablas ke ruang depan, mungkin mau melanjutkan ngerumpinya, apa mau apa, Bela nggak tau, dan memang Bela nggak mau tahu.

Sesampainya Kembali di dalam kamarnya, Bela mengambil HP-nya dan langsung menelpon Natan.
“Halo, ada apa? Bel?”
“Hey bangun lah, tuanrumah kita bisa marah nanti, kalau magrib-magrib ada yang tidur di rumahnya.”
“Iya, iya, ini aku udah bangun.” Jawab Natan yang masih setengah memejamkan matanya.
“Kita solat Magrib berjamaah.” Ucap Bela.
“Aku belum mandi, Bel.”
“Cepatlah, bangun mandi, nggak enak kita di rumah orang.”
Lebih nggak enak lagi kalau kita di rumah tawon, Bel.”
“Huh.” Bela mencibir.
“Cepatlah bangun, nggak usah bercanda.” Ucap Bela yang sebenarnya hatinya berdebar-debar.
“Iya, Iya. Aku bangun sekarang.” Ucap Natan, yang langsung menutup telponnya.
Bela langsung menggemas-gemas gulingnya. Sebelumnya, Natan nggak pernah bercanda seperti ini. “Semoga ini awal Natan akan suka sama aku. Kalau memang aku nggak berhasil, berarti memang Natanlah yang katarak, nggak bisa melihat cewek secantik aku. Apa Natan mungkin Homo, yang nggak bisa suka sama lawanjenis, tapi sukanya sama yang sejenis.” Gumam Bela sendiri.

Setelah Natan mandi, solat magrib berjamaah, Natan dan Belapun langsung menuju ke ruang makan keluarga untuk makan malam bersama.
“Eh, mari, mari, Mas Natan dan Mbak Bela.” Ucap Pak Rasimun.
“Silahkan Mas dan Mbak, kita makan apa adanya.” Ujar Bu Warsini.
“Sini Mbak, duduk sini.” Celetuk Sekar Mirah mempersilahkan Bela duduk di sampingnya.
“Ya, beginilah Mas, makanan di desa, nggak seenak di kota.” Ucap Parjo.
“Di kotapun saya nggak suka makan yang enak-enak, Mas.” Jawab Natan.
“Apa Mas Natan dan Mbak Bela sudah siap bekerja di sawah bersama kami besok?” Tanya Pak Rasimun.
“Kalau saya sudah siap lahir batin, Pak, Nggak tau dengan Mbak Bela.” Jawab Natan.
“Saya juga insya Allah siap, Pak, ya, meskipun saya tidak biasa bekerja di sawah, tapi akan saya coba.” Ujar Bela.
“Kalau Mbak Bela nggak biasa bekerja di sawah, masak aja sama Ibu di rumah.” Ucap Bu Warsini.
“Iya, Mbak, benertuh kata Ibuku, daripada Mbak Bela disawah panas-panasan.” Celetuk Sekar Mirah.
“Iya, gitu juga boleh, nanti tapi Mbak Bela yang menghantarkan makanannya kesawah, kalau sudah waktunya makan siang.” Ujar Parjo menambahi.
“Ya gitu juga boleh.” Ucap Natan yang sedaritadi hanya mengangguk-angguk.
“Lalu saya bekerja disawah hanya sendiri, apa beberapa orang, Pak?” Tanya Natan sama Pak Rasimun.
“Mas Natan bekerja sendiri, tapi tenang pekerjaan itu ringan, hanya menyemprot tanaman padi agar tidak kena hama, obat semprotnya sudah saya siapkan di dalam tangki, jadi besok Mas Natan tinggal membawanya.
“Baik, Pak.” Jawab Natan.
“Apa Mas Natan tidak perlu bantuan misalnya cara menyemprotnya?” Tanya Parjo.
“Untuk ini tidak dulu, Mas. Kalau hanya menyemprot padi, saya sedikit tahu karena dulu waktu saya masih kecil saya tinggal di desa, dan saya sering ikut kakek saya bertani.” Parjo mengangguk-angguk.
“Ooh, ya, bagus kalau gitu, Mas.” Ucap Pak Rasimun.
“Kehadiran Mas dan Mbak sangat membantu kami disini.” Ucap Bu Warsini sambil tersenyum ramah.
“Yak sudah, barangkali Mas Natan ingin beristirahat, besok kan sudah mulai kerja.” Ucap Pak Rasimun.
“Nggak Pak, saya ingin duduk-duduk diluar dulu, melihat-lihat suasana malam di pedesaan.” Jawab Natan.
“Oh, kalau gitu silahkan, Mas.”
“Terimakasih, Pak.”

Natan duduk di beranda depan rumah Pak Rasimun. Dalam hatinya berkata: “Beginilah suasana malam di pedesaan, suasana yang aku rasakan waktu aku kecil dulu.”
Natan membayangkan waktu hidup di desa, bersama kakek dan neneknya. Membayangkan saat-saat bermain bersama teman-teman kecilnya.
“Hmm, bagaimana sekarang kabarnya Bejo, Trianto, dan Warno? Dulu mereka selalu main di sawah sama aku. Apa Bejo sekarang perutnya masih buncit? Apa Warno masih suka melorot-melorotin celana temannya? Apa Trianto masih suka menangis karena pantatnya bisulen? Tentu sekarang mereka sudah besar-besar.”
Natan masih asyik melamun membayangkan masakecilnya yang bahagia. Hidup di desa bersama kakek dan neneknya karena orangtuanya di kota selalu sibuk dengan pekerjaannya, sehingga Natan tidak terurus jika harus hidup di kota bersama ayah dan ibunya.

Sementara Bela, malah asyik dengan laptop-nya di kamar. Namun meskipun demikian pikiran Bela selalu tertuju pada Natan. Sehingga lama-lama Bela pusing sendiri. “Huh, kenapasi? Natan ada di pikiran aku terus?” Ucap Bela dalam hati.
Bela mematikan laptop-nya, lalu merebahkan badannya di kasur. Matanya memandang ke arah langit-langit kamar.
“Apa ya alasannya supaya aku bisa keluar dan duduk sama Natan?” Ucap Bela dalam hati. Ya, gadis itu sedang berpikir keras agar bisa mendekati Natan.
Setelah otaknya terus di putar memikirkan bagaimana alasannya supaya bisa keluar dan duduk bersama Natan, gadis itu akhirnya ngantuk juga. Pikirannya samasekali tidak menemukan cara yang tepat agar bisa keluar dan mendekati Natan.

Sementara di beranda Rumah Pak Rasimun, Natan masih saja asyik dengan lamunannya. Pikirannya terus membayangkan bagaimana masa-masa kecilnya. Natan tidak menyadari, bahwa pintu rumah itu terbuka, dan seorang gadis keluar dari pintu itu.
Gadis itu sejenak memperhatikan Natan yang sedang melamun, tapi gadis itu langsung membuang pandangannya jauh-jauh saat Natan menyadari kehadirannya.
“Eh, Mbak sekarmirah.” Ucap Natan sambil tersenyum. Sekarmirah membalas senyuman Natan.
“Nggak tidur, Mas Natan?” Tanya Sekar Mirah.
“Sebentar lagi lah, masih betah melihat-lihat pemandangan desa di malam hari.”
“Nggak ada yang asyik buat dilihat, Mas, semuanya hanyalah rumah penduduk dan jalanan sempit di desa, nggak ada yang menarik.” Ujar Sekar Mirah.
“Iya, tapi aku suka pemandangan desa di malam hari seperti ini, aku dulu orang desa.”
Oh iya? Mas Natan?
“Iya.”
“Memangnya Mas Natan dulu tinggal di desa apa? Dan di daerah mana?” Tanya Sekar Mirah semakin jauh.
“Aku dulu tinggal di desa Pondok Jati, itu di daerah Tegal Jawatengah.”
“Wah, jauh dari sini, Mas.” Kata Sekar Mirah.
“Iya, kalau dekat dari sini pasti aku udah main ketempat kakek dan nenekku.”
“Memangnya Mas Natan nggak sering main kesana?”
“Ya sering si, tapi paling kalau libur lebaran, apa libur tahun baru.”
“Nggak pengin main kesana, Mas? Misalnya minggu ini, kalau mas Natan udah hampir selesai menjalankan tugas sekolahnya? Capek kan, kalau seminggu ful harus kerja terus? Lagian desa Pondok Jati nggak terlalu jauh banget dari sini.”
Mendengar ucapan Sekar Mirah, Natan terdiam sejenak. Tapi akhirnya di jawabnya juga pertanyaan gadis itu.
“Pengin juga si, Mbak Sekar nggak pengin ikut?”
“Pengin juga si Mas, tapi kalau Ayah sama Ibuku mengizinkan.”
“Tentu, aku seneng banget kalau aku bisa kerumah kakek dan nenekku bareng sama Mbak Sekar, apalagi Mas Parjo juga ikut.”
“Wah, kalau Mas Parjo kayaknya nggak mungkin bisa ikut, Mas. Soalnya kan dia juga kerja di balai desa.” Natan mengangguk-angguk mendengar jawaban Sekar Mirah. Lalu kemudian katanya:
“Ya nggak papalah, Mas Parjo nggak bisa ikut, tapi setidaknya Mbak Sekar ikut itu udah bersyukur banget aku, soalnya biar menemani Bela, kalau aku dan Bela berdua takutnya aku dikira mau ngenalin calon istri sama nenek dan kakek.” Sekar Mirah tersenyum mendengar ucapan Natan. Lalu kemudian katanya:
Tidurlah dulu, Mas, ini sudah malam, ntar besok kesiangan loh.”
Natan mengangguk, kemudian nggak lama kemudian mereka berduapun masukk kedalam kamar masing-masing.
Beranda rumah Pak Rasimun sudah sepi, seperti suasana malam Desa Karang Atos yang sudah sepi semakin larut malam.
Nggak ada suara orang satupun, yang ada hanya suara anjing dan binatang malam yang ramai mewarnai suasana malam di desa Karang Atos.




Lalu apakah Natan dan Bela akan betah selama tinggal di desa itu?


Ikuti kelanjutan kisahnya di part selanjutnya. Sampai jumpa.

MUSIM GUGUR CINTA

Jika teringat masa-masa beberapa tahun yang lalu, aku memang berada didalam suatu taman cinta yang bunganya harum semerbak mewangi.

Aku terbuai akan keindahannya, dan rasanya aku ingin selalu berada di waktu itu.

Namun apapun yang terjadi, hukum alam harus tetap berlaku.

Ada keindahan, pasti ada keburukkan, ada musim semi, pasti ada musim gugur.

Seperti halnya siang yang akan berganti malam, dan kemballi lagi siang di hari yang baru.

Namun didalam hal ini, sungguh aku tak dapat terima. Mengapa begitu cepatnya musim ini tiba di hatiku? Ya, musim gugur cinta yang mengerikan.
Musim gugur cinta yang sungguh membuat hatiku terasa runtuh.
Banjir airmata yang menghanyutkan sejuta harapan dan impian.
Dan, matilah sudah rasa cinta ini, bunga-bunga cinta yang dulu mekar, kini telah layu dan menguncup, karena tak sanggup lagi menahan panasnya taman hati yang telah di landa bencana glombang asmara beracun yang menghancurkan seluruh taman cinta dalam jiwa.

Akankah adalagi musim semi cinta yang menyejukan seluruh jiwa?
Aku sebagai penikmat madu cinta yang manisnya melebihi segalanya selalu menanti musim semi cinta akan tiba.

Aku akan mereguk madunya sebagai penghilang rasa dahaga, sehingga taman hati yang gersang akan segera sejuk kembali.

Dan kini aku akan menjalani tidur panjangku, sampai musim semi cinta kembali tiba, dan aku akan terbangun di hari yang baru.

Hari yang cerah, dan dihiasi oleh bunga-bunga cinta yang selalu mekar sepanjang zaman.

Selamat jalan bungaku yang indah, selamat terbenam mentariku yang cerah, aku akan selalu setia menantimu terbit kembali, dihari esok yang lebih cerah dari hari ini.

SECERCAH CINTAKU UNTUKNYA PART 1

Hey, met apasaja buat sobat semua paramitra setia Mitra Difabel.
Tentunya yang masih selalu setia berkunjung ke Gubug reot ini dong.
OK sob, dalam kesempatan ini aku membawa oleh-oleh cerbung nih, judulnya SECERCAH CINTAKU UNTUKNYA.
Dalam kisah ini mengisahkan tokoh utama seorang pemuda tampan kutubuku, yang selalu cuek sama cewek-cewek manis yang berusaha mendekatinya.
Ya, namun siapa tahu, bahwa dibalik kegemaran pemuda itu membaca buku dan kecuekannya sama cewek-cewek yang mendekatinya, ternyata didalam hati pemuda itu ada satu nama wanita yang sangat sulit dilupakan sama pemuda itu loh sob.
Sobat penasaran dengan kisah selengkapnya? Yuk ah Langsung kita intip bareng-bareng kisah selengkapnya.
Selamat Membaca.

SECERCAH CINTAKU UNTUKNYA BY MUHAMMAD AINUL YAQIN



Hidup, ya, hidup ini memang penuh likaliku. Terkadang ada bahagia yang teramat sangat, tapi juga ada duka yang juga teramatsangat.
Terkadang orang yang lagi berbahagia selalu tertawa sampai lupa segala-galanya, dan yang lagi berduka selalu meneteskan airmata, bahkan sampai nyawapun bisa melayang.

Namun apakah mereka tidak mengerti? Jika apabila Tuhan sudah berkehendak semuanya dapat berubah? Bahagia bisa menjadi duka, dan begitupun sebaliknya.
Hanya kebanyakan manusia tidak mau bersabar menunggu saatnya tiba, dan tidak mau menyadari bahwa saatnya juga nanti pasti akan tiba.
Kebanyakan orang akan cepat merasa terlena jika sedang berbahagia, dan orang akan cepat pula mengambil keputusan jika terlalu berduka. Bahkan jika dukanya terlalu berat, tidak jarang orang yang mengambil jalan pintas, yaitu bunuhdiri.

Seperti pagi ini, Natan sudah di suguhi bacaan seorang wanita yang bunuhdiri dengan cara memotong urat nadinya sendiri, dan modus wanita itu bunuhdiri karena jeratan ekonomi.
Natan terus memelototi koran yang dibelinya saat di perjalanan menuju sekolah tadi dengan dahi berkerut. “Hmm, ekonomi seret kok malah kendat. Kalau ekonominya seret ya kerja dong, jangan malah kendat, dasar orang malas, maunya kaya, tapi kerjaannya hanya tidur. Yaudah tidur aja selamanya. Toh itu sudah menjadi pilihanmu kan?” Gumam Natan dalam hati, seakan-akan hatinya berbicara pada gambar wanita yang bunuhdiri itu, yang ada di koran.
Ya, Natan seorang siswa SMA Bangsa Jaya Kota Tegal memang gemar sekali membaca.
Hari-harinya selalu ditemani buku didepan matanya. Bahkan sangkin gemarnya Natan membaca, Natan sampai merelakan sebagian uang sakunya yang tidak seberapa untuk membeli koran setiap pagi, saat mau berangkat kesekolah. Hasilnya, Natan selalu tahu berita-berita terhangat setiap harinya.

Sesudah membaca koran yang dibelinya dijalan tadi, Natan melipat koran itu, dan menyimpannya didalam tas. Lalu, Natan duduk tenang di bangku kelasnya, sambil menikmati beberapa potong roti dan teh manis yang dibawanya dari rumah.
Kelas sudah ramai pagi ini, semua siswa kelihatannya sudah hadir semua, tinggal menunggu jam masuk saja.
Natan masih duduk di bangkunya sambil menikmati rotinya yang tinggal sepotong. Tiba-tiba Natan di kejutkan oleh suara cewek dari luar kelas yang memanggil-manggil namanya. Katanya:

“Natan, adakah natan didalam kelas?”
Ucap cewek itu yang mulai kelihatan wajahnya di pintu kelas Natan, kelas 11 A.
”Hmm, ada apakah Bela pagi-pagi mencariku.” Gumam Natan dalam hati, dan dengan tersenyum Natan menjawab panggilan cewek itu.
“Ada apa kamu pagi-pagi sudah mencariku, Bel?” Tanya Natan pada Bela.
“Aku Cuma mau mengabarkan, Tan, bahwa nanti jam istirahat kedua ada rapat osis.”
Natan tersenyum, agaknya dia baru ingat, bahwa Bela pengurus osis bagian HUMAS.
“Rapat membahas apa? Agaknya sangat penting sekali, sampai nggak menunggu jam pelajaran selesai?” Tanya Natan penasaran. Lalu, dengan menarik nafas terlebih dahulu, dijawabnya pertanyaan Natan oleh Bela sang HUMAS.
“Ini membahas tentang acara ulangtahun sekolah kita nanti, Tan. Sekaligus mengumpulkan dana dari anak-anak.”
“Hmm, agaknya ketua osis kita cukup matang untuk membuat acara ulangtahun sekolah kita tahun ini sangat meriah.”
“Ya, untuk itu aku harap kamu selaku bendahara OSIS bisa menghadiri rapat siang nanti, jangan malah nongkrong di warung soto Mbak Sari.”
“Iya, iya. Aku pasti menghadiri rapat itu.”
“Ok, aku tunggu ya.”
“Huh, bukannya yang berhak menunggu aku ketua osis kita Ucok?”
Bela mencibir, lalu humas osis yang cantik itu ngeloyor pergi.
Dengan tersenyum-senyum sendiri, Bela terus menyusuri jalan di sekolahnya dari kelas Natan menuju ke kelasnya sendiri.
“Hem, sebenarnya bendahara OSIS yang bernama Natan itu cukup tampan juga, lumayan kalau dijadikan gebetan.” Ucap Bela dalam hati, sambil masih tersenyum-senyum sendiri. Tapi hatinya kembali menggumam, dan diselimuti pertanyaan-pertanyaan nakal.
“Tapi mengapa cowok yang bernama Natan itu selalu menjauh dari cewek? Didepan matanya selalu ada bahan bacaan, entah itu buku, koran, novel, atau apalah, yangpenting bisa dibaca. Bahkan bisa dikatakan Natan seorang cowok kkutubuku berat. Apa nggak terbersit sedikitpun didalam pikirannya untuk mendekati cewek? Mendapatkan kekasih seperti teman-teman lainnya. Mengapa? Bahkan terkadang Natan bersikap begitu dingin sama cewek yang berusaha menarau perhatian lebih padanya.” Bela semakin asyik dengan lamunannya tentang natan. Lalu kembali hati gadis itu mengucapkan tekat yang diyakininya suatu saat akan berhasil. Katanya:
“Biarlah, akan aku terus coba mendekati cowok itu dengan sejuta pesonaku, akan aku buat seorang Natan bertekuk lutut pada Bela. Akan aku buat dia mengemis-ngemis cinta Bela.”

Lamunan Bela dibuyarkan oleh suara cewek yang menyapanya. Cewek itu menyapa Bela dengan suara khasnya yang cempreng, sehingga Bela agak tersentak kaget.
“Wooooy! Jalan sambil tersenyum-senyum sendiri. Loh dah gila ya Bel?”
“Nagetin aja si Loh Re? Untung gueh nggak jantungan.” Ucap Bela pada temannya yang bernama Renita itu.
“Habis Loh si, jalan sambil senyum-senyum sendiri.” Bela tersenyum, lalu mereka berdua masuk kedalam kelas.
Setelah jam istirahat kedua, Natan jalan terburu-buru menuju ke ruang OSIS. Rupanya Natan terlambat 5 menit, sehingga rapat sudah dimulai. Dengan pelan-pelan Natan mengetuk pintu ruang OSIS yang tertutup rapat, namun didalamnya pastilah sudah banyak penghuninya yang sudah datang lebih dulu dari Natan.
“Mengapa terlambat, Tan?” Tanya Ucok sang Ketua OSIS.
“Hmm, maaf, tadi aku habis membeli alat tulis diluar sekolah, karena koprasi sekolah kita tutup.” Jawab Natan, lalu Ucokpun tidak memperpanjang masalah itu.
“Baiklah, berhubung ada teman kita yang sedikit terlambat mengikuti rapat ini, aku akan mengulangi ucapanku yang tadi barusaja aku ungkapkan pada teman-teman anggota Osis semua.” Ucap ucok.
“Seperti yang teman-teman ketahui, bahwa bulan ini sekolah kita akan merayakan pesta yang cukup besar, yaitu peringatan hari ulangtahun sekolah kita yang tercinta ini. Apakah teman-teman sudah tahu berapa usia sekolah kita ini?”
48 Tahun.” Jawab semua anak-anak peserta rapat serentak.
“Nah, untuk itu, saya ingin mengajak semua teman-teman anggota OSIS, bahkan yang bukan anggotaOSIS, untuk berpikir sejenak. Sekolah kita sudah cukup tua, bahkan jika sekolah ini manusia, pastilah manusia itu sudah menjadi seorang Bapak yang bijak, apa mungkin seorang Ibu yang lembut. Maka seperti sekolah ini, dengan Ibu Bapak Gurunya yang selalu trampil mendidik murit-muritnya, berhasilah sekolah ini menjadi sekolah faforit di Kota ini, yang mampu membawa siswa siswi menjuarai berbagai macam perlombaan.” Semua anak-anak peserta rapat bertepuktangan.
“Namun dari dulu jika sekolah ini merayakan hari jadinya, selalu sama. Nggak pernah berbeda. Selalu acaranya itu-itu saja, meniup lilin, memotong tumpeng, dan memeletuskan balon-balon. Bukankah acara itu hanya akan menghambur-hamburkan uang? Bukankah acara itu tidak ada manfaatnya? Untuk itu pada OSIS pereode kali ini akan merencanakan acara yang berbeda. Adapun acara yang ingin osis adakan yaitu: penanaman pohon dilingkungan sekolah, bersih-bersih bersama, dan ini yang paling tidak biasa. OSIS akan mengirimkan 2 orang anak untuk terjun kepedesaan terpencil, untuk mengikuti kegiatan belajar bertani bersama orang-orang petani yang ada di pedesaan itu. Dan untuk hal ini, kami akan memberangkatkan saudara Natan, dan saudari Bela. Nah berhubung semua orang yang tertunjuk ada disini, saya harap anda berdua siap. Dan bisa memberi alasan yang jelas apabila tidak siap.” Natan mengerutkan dahi, begitupun Bela. Lalu, tidak lama kemudian, Natan membuka suara.
“Maaf, mas Ucok, bukannya saya bendahara OSIS, dan setahu saya Mbak Bela juga bagian HUMAS didalam kepengurusan OSIS. Kalau saya dan Mbak Bela yang berangkat, siapa yang akan mengurus tugas-tugas kami?” Sejenak Ucok sang ketua OSIS mengerutkan dahi. Lalu, dijawabnya pertanyaan Natan itu.
“Hmm, Ya, ya. Aku tahu itu, Saudara Natan. Tapi tenanglah, tugas-tugas anda disini akan digantikan oleh wakil bendahara dan wakil humas.”
“Lalu bagaimana dengan pelajaran kami?” Kali ini Bela yang membuka suara.
“Tenang Mbak Bela, selama satu minggu ini semua pelajaran akan di kosongkan, karena selama satu minggu ini sekolah akan mengadakan berbagaimacam perlombaan.”
“Baiklah, aku menerima tugas itu.” Ucap Bela.
“Di desa manakah kami akan di tugaskan?” Ujar Natan menimpali.
“Apakah kalian berdua setuju?” Tanya Ucok.
“Ya, kami setuju.” Ucap Bela dan Natan berbarengan.
“Baiklah, kalian akan ditugaskan di sebuah desa yang cukup terpencil, namanya desa Karang Atos. Warga desa disana sebagian besar petani, dan Mas Natan juga Mbak Bela akan belajar bagaimana cara menjadi petani yang baik, dan bagaimana susah payahnya menjadi petani.”
“Huh, aku samasekali nggak berminat untuk menjadi petani, amit-amit deh. Kalausaja aku nggak berpikir ini kesempatan buat mendekati Natan, aku nggak akan mau di berangkatkan ke desa itu.” Gumam Bela, namun hanya didalam hati.
“Maaf Mas OSIS, aku ada sedikit pertanyaan nih.” Ucap Cempaka yang menjabat sebagai seksi kesenian dalam kepengurusan OSIS. Semua mata kini memandang ke arah Cempaka karena penasaran, apa yang akan ditanyakan gadis itu.
“Ya, ya, silahkan Mbak Cempaka, apakah yang ingin anda tanyakan?” Jawab Ucok.
“Begini Mas OSIS, selama di desa, apakah Mbak Bela serumah dengan Mas Natan?”
“Ooo, ya, Mbak Cempaka, anda betul alias tidak salah. Tapi saya yakin yang ada di pikiran anda salah. Pasti sekarang anda berpikir bahwa saat di desa Mas Natan dan Mbak Bela akan tinggal satu rumah, dan nanti mereka akan berbuat yang tidak-tidak. Bukankah begitu yang ada didalam pikiran anda Mbak Cempaka?”
Cempaka mengerutkan keningnya. Mukanya mendadak merah karena ternyata Ucok mampu menebak apa yang ada di dalam pikirannya.
“Biarkan mereka saturumah, tapi mereka saya jamin tidak akan mampu berbuat apapun, karena kamar mereka terpisah jauh. Terlebih mereka akan tinggal di rumah Kepala Desa setempat.”
Cempaka mengangguk-angguk, Lalu setelah itu Ucok sang OSIS segera menutup rapat.

Setelah rapat di tutup, semua anak-anak anggota OSIS itu langsung berebut untuk lebih dulu keluar dari ruang rapat itu.




Lalu apakah Natan dan Bela akan berhasil menjalankan tugas dari program OSIS itu?
Dan bagaimanakah keadaan keduanya setelah berada di desa Karang Atos?
Ikuti kelanjutan kisahnya di Part berikutnya. SAMPAI JUMPA.

MENGEJAR CITA BERSAMA CINTA

Terkadang banyak orang yang memandang orang lain karena hartanya, melihat bahwa orang itu bisa karena dia kaya, dan percaya bahwa orang itu mampu karena punya harta.
Namaku Dino, bukan Dino saurus kepanjangannya, tapi Dino Rianto.
Aku akan mengisahkan tentang masa sekolahku yang selalu mendapat rintangan, cemoohan, dan selalu di pandang sebelah mata oleh teman-temanku, orangtua kekasihku, kekasihku sendiri, bahkan Guruku.
Penyebabnya mereka memandang sebelah mata padaku hanya karena aku anak orang yang sederhana.
Ya, kata sederhana atau miskin itulah yang selalu membuat mereka semua memandangku sebelah mata.
Hanya cinta sahabatlah, yang selalu menerangi jiwa ini saat aku jauh dari orangtuaku, dan semua keluargaku.
***
Siang ini sangat ramai, di Sekolah Luarbiasa kota Biru Indah semua Anak nampak beraktifitas seperti biasanya.
Ada yang mengobrol tentang pelajaran, yang cewek ngobrol tentang sinetron, bahkan tidak jarang juga anak-anak yang mengobrol tentang bola. Pokoknya ramai deh, seperti pasar.
Di depan kelasku, nampak segerombolan anak yang sedang asyik membahas tentang bola, aku dapat mengenali suaranya, Mereka adalah Ario, Teguh, dan Andi.
Mereka langsung terdiam seribubahasa saat mengetahui aku datang dan ikut duduk bergabung di samping Mereka.
Diam, berbisik, dan akhirnya mereka pergi.
Sebenarnya aku juga nggak tahu, apa salahku? Apa dosaku hingga mereka semua menjauhiku. Yang aku tahu, aku hanyalah anak orang tapunya.
Tapi mungkinkah karena itu mereka semua menjadi menjauhiku?
Ya, aku memang anak orang yang sangat sederhana, Pekerjaan Bapakku hanyalah penjual buah keliling yang tak menentu penghasilannya. Boro-boro untuk membeli pakaian yang bagus, kendaraan yang mewah, untuk makan saja jika hari ini ada kami sangat bersyukur.
Toh kesederhanaan atau lebih kasarnya kemiskinan itu semua tidak ada masalah bagi aku.
Bagiku asalkan aku bisa memandang dirinya didalam cermin sebagai diriku sendiri itu merupakan hal yang sangat berharga didalam hidup ini.
Dalam artian aku bisa menunjukan aku apa adanya untuk diriku sendiri, tanpa ada yang kulebihkan dan kukurangi itu merupakan bagian hidup yang sampai saat ini massih sangat aku pertahankan.
Selama ini sering aku mengamati kehidupan di sekitarku, atau merasakan kehidupan disekitarku, banyak sekali orang yang tidak jujur pada dirinya sendiri, maupun pada oranglain.
Seringkali aku melihat bagaimana teman-temanku yang berpenampilan menarik jika ketemuan dengan pacarnya, padahal saat di kosan bajunya sudah 1 minggu tidak dicuci.
Apa mungkin Para pejabat yang berpidato sangat lembut, sangat mengutamakan kepentingan Masyarakat kecil, seolah-olah masyarakat yang terutama dan lebih penting dari segala-galanya, padahal di balik sakunya terselip uang pembangunan sekolah, pembangunan jalan, dan lain-lain yang tentunya membuat masyarakat kecil semakin terjepit.
Dan kedua manusia yang sedang dilanda asmara yang mengatakan kamulah yang terindah, kamulah yang sanggup membuat aku tergila-gila, aku tidak akan meninggalkanmu, apapun yang terjadi.
Padahal dibelakang kekasihnya dia tergila-gila pada orang lain yang lebih indah dompetnya, yang berujung meninggalkan kekasihnya karena orang ketiga yang dompetnya lebih tebal.
Aku tidak suka dengan ketidakjujuran seperti itu, meskipun aku tidak bisa mengatakan bahwa akulah orang yang selalu jujur, akulah orang yang takpernah berbohong, tentu aku tidak bisa mengatakan itu, sebab setiap manusia yang masih bernafas pasti sedikit banyak pernah melakukan kebohongan baik pada orang lain, maupun pada dirinya sendiri.
Tapi setidaknya aku selalu tampil apa adanya, tanpa ada yang aku kurangi, maupun aku lebihkan.
Inilah aku yang jelek, inilah aku yang miskin, inilah aku yang bodoh, inilah aku yang memiliki kekurangan penglihatan pada mataku, atau lebih tepatnya dikatakan tunanetra.
"Woy, ngelamun sendirian ajah loh?"
Ucap seorang gadis manis bersuara cempreng menyadarkanku dari lamunan ini.
Aku dapat mengenali suaranya, Dia adalah Devi.
Ya, dari semua teman yang menjauhiku, hanya Devi yang masih mau bersahabat denganku.
Bukannya Devi juga sama anak orang miskin seperti aku, itu bukan.
Devi anak orang kaya, Bapaknya mempunyai banyak lestoran di seluruh Negri ini. Ibunya mempunyai bisnis garmen yang besar dan banyak cabangnya.
Wajah Devi juga cantik, seperti Nikitawili.
Tapi entah mengapa, ini anak mau bersahabat denganku yang miskin dan buta.
Ya, meskipun Devi berbeda jauh denganku, namun toh dia masih mau menjadi sahabat yang selalu ada buat aku.
***
Aku masih teringat 3 tahun yang lalu saat pertamakali aku berkenalan dengan Devi, waktu itu aku masih anak baru di sekolah ini, dan Devi juga sama, masih Siswi baru di sekolahnya, SMA 222.
SLB tempat aku sekolah dengan SMA 222 tempat Devi sekolah tepat berhadapan pintu gerbangnya, sehingga jika jam istirahat warung soto Pak Jarotlah yang menjadi tujuan anak-anak SMA 222 dan SLB Kota Biru Indah tempat aku sekolah.
Waktu itu aku mau beli soto Pak Jarot di depan, namun aku belum hafal jalannya. Berhubung aku anaknya nekat, aku jalan aja kedepan sendiri.
Dengan gagah dan berani aku berjalan setengah terburu-buru.
Aku nggak sadar di depanku ada becak yang sedang berhenti. Dan akupun menabrak becak itu sampai kakiku naik ke atas becak, karena aku kira itu bukan becak, tapi jalanan yang menanjak.
Abang becak yang lagi tertidur di atas becak sambil menunggu penumpangpun terbangun kaget.
Sampai akhirnya aku di gandeng abang becak itu sampai di tempat warung soto Pak Jarot.
"Mau beli apa Mas?"
Ucap seorang gadis di depanku.
"Beli soto, jangan pedes, di kasi lontong ya Bu."
Ucapku dengan lancar.
"Eh, maaf Mas, aku bukan penjualnya, itu penjualnya di depan."
Duh, malunya aku, ternyata salah orang aku.
"Duh, maaf Mbak, aku nggak liat."
Buru-buru aku meminta maaf pada Cewek SMA yang barusan aku panggil Bu Itu.
"Iya, Iya, nggak Papa Mas."
Jawab cewek itu.
Cewek itu terus duduk di bangku yang tepat di depan bangku yang aku duduki, sampai soto pesananku jadi dan masih dengan malu-malu aku melahap soto itu.
Nggak cuma disitu yang membuat aku malu-malu kuda, tapi karena soto itu lumayan pedas juga panas, ingusku sempat melongok dari hidung dan cewek itu pasti melihatnya.
Duh, betapa malunya aku, mau mengelap ini ingus malu, mau membiarkan apalagi.
Akhirnya aku pura-pura menunduk, sambil mengelap nih ingus.
Nah mulai disitu aku kenal Devi, karena kami sering ketemu di warung soto Pak Jarot, akhirnya kami saling berkenalan, dan bertahap kami saling mengenal, dan sampai saat ini kami menjadi 2 orang sahabat yang saling menyayangi.
***
"Aku lagi bingung nih Dev, mengapa ya? Mereka selalu menjauhi aku? Apa sebenarnya salahku?"
Ucapku pada Devi, setelah sekian lamanya aku terdiam.
"Udah lah, ngapain si kamu mikirin mereka? Toh kamu makan nggak disuapin mereka kan? Toh kamu jalan nggak harus digendong mereka kan? Jadi ngapain kamu mikirin mereka. Mending kita makan soto aja yuk."
Ucap Devi sambil meraih tanganku.
Ya, ini sahabat memang selalu ada di saat aku terjatuh, selalu ada menggenggam tanganku di saat aku rapuh, terutama rapuh karena di jauhi teman karena kemiskinan, juga di putuskan kekasih yang mungkin juga karena kemiskinan pula.
"Eh, Nak Dino sama Mbak Devi. Monggo, monggo, duduk dulu. Mau makan apa Mas ganteng sama Mbak cantik?"
Ucap Pak Jarot sangpenjual soto langganan.
"Biasa Pak, kami pesan Soto yang pedas, di kasih lontong ya."
Jawab Devi yang sekaligus menjadi juru bicara buat aku dalam memesan makanan, karena kesukaan kami benar-benar sama.
"Ok, Siap Neeeeeng."
Jawab Pak Jarot sambil tersenyum ramah.
"Aku yakin, pasti kamu nggak hanya galau karena dijauhi Mereka, tapi juga masih galau karena Diana kan?"
Tanya devi membuka pembicaraan.
Dan herannya tebakan nih bocah tepat Loh, kalau aku nggak hanya lagi galau karena dijauhi semua teman-teman, tapi yang paling mendasar galau karena aku teringat dengan mantanku yang bernama Diana, yang baru memutuskan aku tanpa sebab satu minggu yanglalu.
Berhubung pertanyaan Devi sangat tepat dan samasekali tidak melenceng, ya, aku hanya bisa mengangguk. Karena memang itu yang aku rasakan.
Ya, aku masih benar-benar teringat saat-saat menyakitkan itu, saat Diana kekasih yang sangat aku bangga-banggakan memutuskan aku tanpa sebab.
Tapi ya, entah memang benar-benar tanpa sebab, apa ada sebab lain yang aku nggak tahu, itu hanya Tuhan yang tahu.
***
"Mengapa? Mengapa kita harus putus?"
Tanyaku pada Diana waktu itu.
"Karena aku udah nggak ada rasa sama kamu, aku udah nggak sayang kamu lagi."
Itu, hanya itu alasan Diana.
"Lagian aku juga belum boleh pacaran sama Ayahku." Tambahnya.
Udah nggak sayang, udah nggak ada rasa, ini, ya, cuma ini buahnya dari hubungan asmara yang sudah aku bangun selama hampir 2 tahun dengan gadis munavik ini, cuman kata-kata hilangrasa, nggak sayang lagi, dan belum boleh pacaran sama Ayah. Cuma Kata-kata menjijikan itu buahnya.
Makannya, aku juga sebenarnya jijik dengan perasaanku sendiri, yang masih saja mencintainya, masih saja menyayanginya, dan masih sering berusaha menghubungi gadis munavik itu.
***
"Woooooy, malah ngelamun, nih sotonya udah jadi, ayo cepet dimakan, sebentar lagi masuk ini."
Ucapan Devi mengagetkan aku lagi dari lamunanku.
"Eh, iya, iya." Jawabku seperti orang bloon, lalu langsung menyantap soto lezat yang ada didepan mataku.
"Sudahlah Din, ngapain Kamu terus-terusan memikirkan Diana? Toh Diana juga belum tentu mikirin kamu."
Ucap Devi.
"Aku masih sangat menyayangi dia, Dev."
Jawabku jujur. Devi menarik nafas, tubuhnya di sandarkan pada kursi kayu yang ada di warung soto Pak Jarot itu. Lalu kemudian, Ia kembali membuka suara.
"Semua terserah kamu, Din, aku sebagai sahabat hanya bisa memberi saran yang terbaik, dan menghibur kamu sebisamungkin."
"Terimakasih, Dev, terimakasih."
Jawabku, kemudian kami kembali ke sekolah kami masing-masing untuk mengikuti MAPEL yang selanjutnya.
***
Hari ini hari Senin, aku terpaksa izin nggak masuk sekolah karena aku nggak enak badan.
Ya, rasa sakit hatiku karena diputuskan tanpa sebab oleh Diana dan dijauhi teman rupanya benar-benar membuat aku drop.
Aku izin nggak masuk sekolah, dan aku istirahat di kamar asramaku.
Samar-samar aku mendengar Pak Haryanto, pembimbing asramaku, sedang bercakap-cakap dengan Ayah dan Ibunya Teguh, yang baru datang untuk menjenguk Teguh di asrama.
"Iya, saya sangat mendukung kalau mas Teguh melanjutkan pendidikannya di Ibu Kota."
Ucap Pak Haryanto yang samar-samar kudengar.
"Iya, Pak, Teguh kan anaknya mampu, dan dia sangat percayadiri untuk melanjutkan pendidikan disana."
Jawab Ibunya Teguh.
"Iya, iya Bu, saya tahu, Teguh anaknya pintar, lincah, juga cerdik. Makannya, saya usahakan, supaya Teguh bisa masuk Unifersitas ternama di Ibu Kota."
Ucap Pak Haryanto.
"Iya, Pak, tapi terusterang saya masih belum tega kalau membiarkan Teguh merantau jauh dari saya."
"Ibu tenang, Bu, saya yakin, Teguh pasti dapat hidup mandiri disana, dan saya juga sangat mengerti, bahwa Teguh anak yang pandai membawa diri, bisa mengerti dan membaca situasi, jadi Ibu nggak usah khawatir."
Ucap Pak Haryanto begitu meyakinkan Ibunya Teguh, bahwa Teguh mampu hidup mandiri saat jauh dari orangtua.
Ucapan Pak Haryanto benar-benar terdengar bijaksana dan menenangkan, bagaikan seorang Ayah yang menenangkan anaknya dari segala macam ketakutan.
Disini aku heran, mengapa ucapan Pak Haryanto pada orangtua Teguh begitu berbeda 190 drajat sama ucapannya pada Orangtuaku 1 minggu yang lalu?
Padahal keinginanku dengan keininan Teguh sama, yaitu meneruskan pendidikan di Ibukota. Tapi mengapa Pak Haryanto begitu berbeda cara menanggapinya? Apa sebabnya?
Ya, betapa ucapan Pak Haryanto masih terngiang-ngiang ditelingaku. Ucapannya 1 Minggu yanglalu yang sempat membuat langkahku ragu, membuat aku rapuh, dan membuat aku menjadi kecil hati.
***
"Gimana Bu? Habis lulus dari sini rencananya Mas Dino mau lanjut kemana? Nikah, kerja, apa gimana?"
Tanya Pak Haryanto Pada Ibuku 1 Minggu yanglalu, saat Ibuku mengunjungi aku ke Asrama.
"Ya, Insya Allah si Mas Dino pengin kuliah di Jakarta, Pak."
Jawab Ibuku.
"Waduh, kuliah di Jakarta? Sepertinya agak susah, Bu, kalau Dino mau masuk kesana, selain saingannya banyak, biyaya kehidupannya juga sangat berat disana Bu."
Jawab Pak Haryanto Waktu itu.
Jelas, jawaban itu membuat aku kecil hati untuk melanjutkan kuliah.
Dan aku sempat bingung sesudah lulus SMA aku mau apa? Aku harus gimana?
Langsung nyari kerja nggak mungkin, aku tunanetra, pekerjaan apa yang pantas untuk aku yang hanya bermodalkan ijasa SMA?
Tapi kini aku baru tahu, rupanya Pak Haryanto ini tidak percaya bahwa orang miskin seperti aku bisa kuliah.
Aku baru tahu rupanya orang baru bisa kelihatan mampu melakukan segala macam hal apabila orang itu terlihat banyak uang, hidup berkecukupan, berpakaian bagus, juga berkendaraan mewah.
Sementara yang anak orang miskin seperti aku mungkin dimata orang tidak pantas mempunyai cita-cita, tidak pantas bersekolah tinggi, dan tidak mungkin mampu merubah kehidupannya, kecuali nazib yang mengubahnya.
Ok, kali ini aku kembali semangat.
Aku ingin membuktikan pada semua orang yang meremehkan aku, dan keluargaku, bahwa akupun bisa mengejar cita-citaku, bahwa akupun mampu bersekolah tinggi meskipun aku anak orang miskin.
Aku harus bisa! Ya, aku harus bisa!
Ayo, Dino! Kamu harus bisa, kamu harus bisa mengangkat derajat orangtuamu, kamu harus bisa menunjukan pada mereka bahwa kamupun mampu.
Aku semangat, hatikecilku mulai membesar, jiwaku yang rapuh kembali kokoh, tekatku kuat, tekat untuk melangkah, mengejar semua cita.
Tekat untuk terbang mengambil semua cita-cita yang tergantung di langit, dan tekat untuk mengubur rasa putusasa dalam-dalam di dalam bumi.
***
Hari ini hari yang paling mendebarkan bagi semua anak kelas akhir SMA.
Ya, karena hari ini adalah Ujian Nasional.
Aku harus berusaha semaksimalmungkin untuk mengejar nilai yang memuaskan.
Aku harus bisa membuktikan pada mereka yang selalu meremehkan aku, bahwa aku yang miskin juga bisa kuliah. Tidak harus dengan uangku, tapi dengan otakku.
Aku harus mampu. Demi orangtuaku, demi keluargaku, demi hargadiriku.
Soal demi soal aku kerjakan dengan cermat dan sangat telitih.
Dan 2 MAPEL telah aku lewati.
Saatnya pulang, namun aku tidak langsung pulang, melainkan menunggu Devi terlebih dahulu didepan gerbang sekolahku.
Nggak papalah, kan Devi sahabatku, bukan pacarku. Jadi aku rasa nggak ada masalah lagi ujian aku ketemuan.
"Hai, udah lama nunggu nih? Maaf ya, aku baru selesai."
Ucap Devi.
Namun kini Devi nggak seperti biasanya, kini Devi suaranya lemas, nggak cempreng seperti biasanya. Ada apa dengan sahabat terbaikku ini?
"Nggak juga si, baru sebentar kok. Kenapa? Kok lemes? Lagi sakit?"
Tanyaku pada Devi.
"Nggak, tapi, sepertinya aku harus bicara sama kamu, Din."
"Bicara apa? Sepertinya ada masalah serius?"
Tanyaku penasaran.
Nggak biasanya Devi seserius ini. Biasanya Ia selalu periang, selalu ceria, apapun selalu Ia jadikan bahan candaan. Mengapa kini Ia begitu murung dan serius?
"Kita ke taman aja yuk. Nggak enak kalau harus bicara disini."
"Boleh, terserah kamu aja lah, mau bicara dimana."
Devi mengggandeng aku menuju taman kecil disamping sekolahku.
Taman ini sangat sepi, dan begitu lengang dan tenang. Devi mulai membuka pembicaraan.
"Aku mau ngomong sama kamu Din, dan aku harap, kamu jangan sedih dan tetap semangat."
Ucap Devi
"ngomong apa Dev? Jangan buat aku penasaran dong."
Jawabku penasaran.
"Aku diminta Ayahku untuk melanjutkan kuliah di Amerika Din, kamu tetap semangat disini ya, terus kejar cita-cita kamu sampai kamu bisa mendapatkan apa yang kamu impikan. Buktikan pada mereka bahwa kamu bisa."
Ucap Devi sambil menangis.
Ya Allah. Akhirnya setelah kekasihku, semua teman-temanku, Sahabatku kini juga akan meninggalkan aku.
Apakah aku harus sendiri? Sahabat yang selama ini menjadi tumpuhanku juga akhirnya akan pergi meninggalkan aku.
Aku cuma terdiam, nggak sanggup berkata apapun.
"Jaga diri baik-baik disini ya Din."
"Iya Dev, kamu juga jagadiri baik-baik disana ya. Kuliah yang bener, kalau menurut aku si kamu jangan pacaran dulu, kasihan orangtuamu yang membiyayahi kamu kuliah."
Jawabku, sambil meneteskan airmata.
Duh, bener-bener kelihatan cengeng aku.
"Ada 1 hal lagi yang harus aku sampaikan sama kamu Din."
"Apa itu Dev?"
"Sebenarnya aku nggak pantas mengungkapkan ini sama kamu, tapi memang harus aku ungkapkan sebelum aku pergi. Aku sayang sama kamu Din, aku cinta sama kamu."
Aku kaget setengahmati mendengar ucapan Devi.
Ya, cewek secantik Devi menyatakan cinta padaku. Seorang cowok yang memiliki kekurangan, seorang cowok yang miskin dan selalu terhina.
"Ini bener Dev? Aku nggak mimpi?
"Maafin aku Din, aku harus ungkapkan ini sama kamu. Meskipun sebagai seorang wanita, meskinya aku tidak pantas mengucapkan itu. Tapi, ini rasaku Din, rasa yang mungkin akan aku tinggalkan di Negri ini."
Ujar Devi.
"Aku juga sayang kamu Dev. Aku cinta kamu. Aku akan selalu berusaha sekuat mungkin mengejar cita-citaku demi keluargaku, dan demi kamu. Aku tunggu kamu di Indonesia sampai kamu kembali, dan aku akan berusaha mendapatkan kamu Dev. Kita akan bersatu untuk selamanya.
Ucapku.
"Iya sayang, jaga cinta kita sampai kita kembali bertemu ya."
"Iya, itu pasti sayang."
Jawabku, kemudian kami berpelukan lama sekali seolah kami tidak ingin dipisahkan untuk selamanya.
Dan ini yang pertamakalinya aku memeluk tubuh Devi, selama aku bersahabat dengan Devi.
***
Akhirnya hari yang mendebarkan itupun tiba. Hari dimana aku mengambil pengumuman kelulusan.
Ibu dan Bapakku datang kesekolah untuk menerima pengumuman penentu masadepanku itu.
Aku juga menunggu pengumuman itu dengan hati berdebar tak karuan.
Tanganku dingin seperti Es, perutku mules dan selalu ingin pipis.
Begitu tegangnya aku menunggu pengumuman itu.
Sampai akhirnya, Ibu datang memeluku.
Bapak juga ikut memeluku. Keduanya memeluk aku dengan Erat.
Mereka memeluk aku sambil menangis. Hatiku seakan runtuh, pastilah sesuatu yang aku takutkan telah terjadi.
Ya, aku pasti tidak lulus, aku pasti telah mengecewakan kedua orangtuaku.
"Maafkan aku, Bapak, maafkan aku, Ibu, aku telah membuat Bapak dan Ibu kecewa. Maafkan aku, maafkan aku."
Ucapku pada kedua orangtuaku berulangkali.
"Mas Dino, ikut Ibu dulu ke kantor yuk."
Ucapan Bu Veni sang kepalasekolah yang begitu lembut dan ramah begitu mengagetkan kami yang sedang menangis bersama sambil berpelukan.
"Eh, iya Bu."
Jawabku sambil menundukan kepala untuk menutupi rasa malu.
Bu Veni begitu lembut menggandeng aku menuju kantor kepalasekolah.
Disana ada Pak Budi pegawai bagian tata usaha, ada Pak Gatot Guru yang sangat terkenal galak, dan ada Bu Karlita satu-satunya Guru cantik idolaku, juga ada Pak Haryanto pembimbing asrama yang selalu meremehkan aku dan orangtuaku.
Duh, lengkaplah sudah rasamaluku.
"Begini, maksud Ibu memanggil Nak Dino ke kantor ini, yang pertama, Kami, Ibu Bapak Guru ingin mengucapkan selamat pada Nak Dino, karena Nak Dino lulus dengan nilai yang begitu sempurna dan memuaskan. Dan karena itulah, Nak Dino dapat biasiswa untuk kuliah di Amerika."
Jantung aku bagaikan berhenti dan serasa membeku darahku mendengar ucapan Bu Veni.
Mulutku terus mangap, mataku membelalak, dan aku tersungkur sujut sukur di lantai kantor kepala sekolah itu.
Aku benar-benar bahagia, semua guru memeluku, bahkan pelukan Bu Karlita yang selama ini aku selalu membayangkannya, kini dapat aku rasakan Bu Karlita begitu Erat dan lama memeluk tubuhku.
Ucapan selamat begitu terdengar dimana-mana.
Ibu kembali memeluk aku, Bapak menangis sampai tak sadarkandiri.
Devi begitu tiba disekolahku memeluk aku, bahkan didepan orangtua aku dan orangtuanya.
Ayah dan Ibu Devi sampai ikut terharu.
"Aku menyayangi dia Ayah, Ibu, izinkan kami mengejar cita-cita bersama, izinkan kami bersama meraih mimpi, restuilah kami menggapai bintang yang gemilang Ayah, Ibu."
Ucap Devi sambil menangis bahagia.
"Ayah dan Ibumu mengizinkan kalian untuk mengejar cita-cita bersama Nak, kalian anak-anak yang berfrestasi, Ayah bangga sama Kalian berdua."
Ucap Ayah Devi, dan Akhirnya aku dan Devi berangkat bersama Ke Amerika untuk menjemput asa, meraih mimpi, dan menggapai bintang yang gemilang.
TAMAT.
Pengarang dan penulis cerita:
Muhammad Ainul Yaqin.

Technology

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Arsip Blog

Cari Yang Ada Saja Ya Sob

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Author Details

Templatesyard is a blogger resources site is a provider of high quality blogger template with premium looking layout and robust design. The main mission of templatesyard is to provide the best quality blogger templates which are professionally designed and perfectlly seo optimized to deliver best result for your blog.

Breaking

Fashion

News

Food

Sports

Food

Technology

Featured

Videos

Mengenai Saya

Seorang Tunanetra dari tegal yang sangat hobby menulis

Follow Us @templatesyard

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Tags

Music (1)

Categories

Sponsor

AD BANNER

Recent News

About Me

authorHello, my name is Jack Sparrow. I'm a 50 year old self-employed Pirate from the Caribbean.
Learn More →

Connect With us

Comments