Jika teringat masa-masa beberapa tahun yang lalu, aku memang berada didalam suatu taman cinta yang bunganya harum semerbak mewangi.
Aku terbuai akan keindahannya, dan rasanya aku ingin selalu berada di waktu itu.
Namun apapun yang terjadi, hukum alam harus tetap berlaku.
Ada keindahan, pasti ada keburukkan, ada musim semi, pasti ada musim gugur.
Seperti halnya siang yang akan berganti malam, dan kemballi lagi siang di hari yang baru.
Namun didalam hal ini, sungguh aku tak dapat terima. Mengapa begitu cepatnya musim ini tiba di hatiku? Ya, musim gugur cinta yang mengerikan.
Musim gugur cinta yang sungguh membuat hatiku terasa runtuh.
Banjir airmata yang menghanyutkan sejuta harapan dan impian.
Dan, matilah sudah rasa cinta ini, bunga-bunga cinta yang dulu mekar, kini telah layu dan menguncup, karena tak sanggup lagi menahan panasnya taman hati yang telah di landa bencana glombang asmara beracun yang menghancurkan seluruh taman cinta dalam jiwa.
Akankah adalagi musim semi cinta yang menyejukan seluruh jiwa?
Aku sebagai penikmat madu cinta yang manisnya melebihi segalanya selalu menanti musim semi cinta akan tiba.
Aku akan mereguk madunya sebagai penghilang rasa dahaga, sehingga taman hati yang gersang akan segera sejuk kembali.
Dan kini aku akan menjalani tidur panjangku, sampai musim semi cinta kembali tiba, dan aku akan terbangun di hari yang baru.
Hari yang cerah, dan dihiasi oleh bunga-bunga cinta yang selalu mekar sepanjang zaman.
Selamat jalan bungaku yang indah, selamat terbenam mentariku yang cerah, aku akan selalu setia menantimu terbit kembali, dihari esok yang lebih cerah dari hari ini.
Aku terbuai akan keindahannya, dan rasanya aku ingin selalu berada di waktu itu.
Namun apapun yang terjadi, hukum alam harus tetap berlaku.
Ada keindahan, pasti ada keburukkan, ada musim semi, pasti ada musim gugur.
Seperti halnya siang yang akan berganti malam, dan kemballi lagi siang di hari yang baru.
Namun didalam hal ini, sungguh aku tak dapat terima. Mengapa begitu cepatnya musim ini tiba di hatiku? Ya, musim gugur cinta yang mengerikan.
Musim gugur cinta yang sungguh membuat hatiku terasa runtuh.
Banjir airmata yang menghanyutkan sejuta harapan dan impian.
Dan, matilah sudah rasa cinta ini, bunga-bunga cinta yang dulu mekar, kini telah layu dan menguncup, karena tak sanggup lagi menahan panasnya taman hati yang telah di landa bencana glombang asmara beracun yang menghancurkan seluruh taman cinta dalam jiwa.
Akankah adalagi musim semi cinta yang menyejukan seluruh jiwa?
Aku sebagai penikmat madu cinta yang manisnya melebihi segalanya selalu menanti musim semi cinta akan tiba.
Aku akan mereguk madunya sebagai penghilang rasa dahaga, sehingga taman hati yang gersang akan segera sejuk kembali.
Dan kini aku akan menjalani tidur panjangku, sampai musim semi cinta kembali tiba, dan aku akan terbangun di hari yang baru.
Hari yang cerah, dan dihiasi oleh bunga-bunga cinta yang selalu mekar sepanjang zaman.
Selamat jalan bungaku yang indah, selamat terbenam mentariku yang cerah, aku akan selalu setia menantimu terbit kembali, dihari esok yang lebih cerah dari hari ini.


0 komentar:
Posting Komentar