Hey, met apasaja buat sobat semua paramitra setia Mitra Difabel.
Tentunya yang masih selalu setia berkunjung ke Gubug reot ini dong.
OK sob, dalam kesempatan ini aku membawa oleh-oleh cerbung nih, judulnya SECERCAH CINTAKU UNTUKNYA.
Dalam kisah ini mengisahkan tokoh utama seorang pemuda tampan kutubuku, yang selalu cuek sama cewek-cewek manis yang berusaha mendekatinya.
Ya, namun siapa tahu, bahwa dibalik kegemaran pemuda itu membaca buku dan kecuekannya sama cewek-cewek yang mendekatinya, ternyata didalam hati pemuda itu ada satu nama wanita yang sangat sulit dilupakan sama pemuda itu loh sob.
Sobat penasaran dengan kisah selengkapnya? Yuk ah Langsung kita intip bareng-bareng kisah selengkapnya.
Hidup, ya, hidup ini memang penuh likaliku. Terkadang ada bahagia yang teramat sangat, tapi juga ada duka yang juga teramatsangat.
Terkadang orang yang lagi berbahagia selalu tertawa sampai lupa segala-galanya, dan yang lagi berduka selalu meneteskan airmata, bahkan sampai nyawapun bisa melayang.
Namun apakah mereka tidak mengerti? Jika apabila Tuhan sudah berkehendak semuanya dapat berubah? Bahagia bisa menjadi duka, dan begitupun sebaliknya.
Hanya kebanyakan manusia tidak mau bersabar menunggu saatnya tiba, dan tidak mau menyadari bahwa saatnya juga nanti pasti akan tiba.
Kebanyakan orang akan cepat merasa terlena jika sedang berbahagia, dan orang akan cepat pula mengambil keputusan jika terlalu berduka. Bahkan jika dukanya terlalu berat, tidak jarang orang yang mengambil jalan pintas, yaitu bunuhdiri.
Seperti pagi ini, Natan sudah di suguhi bacaan seorang wanita yang bunuhdiri dengan cara memotong urat nadinya sendiri, dan modus wanita itu bunuhdiri karena jeratan ekonomi.
Natan terus memelototi koran yang dibelinya saat di perjalanan menuju sekolah tadi dengan dahi berkerut. “Hmm, ekonomi seret kok malah kendat. Kalau ekonominya seret ya kerja dong, jangan malah kendat, dasar orang malas, maunya kaya, tapi kerjaannya hanya tidur. Yaudah tidur aja selamanya. Toh itu sudah menjadi pilihanmu kan?” Gumam Natan dalam hati, seakan-akan hatinya berbicara pada gambar wanita yang bunuhdiri itu, yang ada di koran.
Ya, Natan seorang siswa SMA Bangsa Jaya Kota Tegal memang gemar sekali membaca.
Hari-harinya selalu ditemani buku didepan matanya. Bahkan sangkin gemarnya Natan membaca, Natan sampai merelakan sebagian uang sakunya yang tidak seberapa untuk membeli koran setiap pagi, saat mau berangkat kesekolah. Hasilnya, Natan selalu tahu berita-berita terhangat setiap harinya.
Sesudah membaca koran yang dibelinya dijalan tadi, Natan melipat koran itu, dan menyimpannya didalam tas. Lalu, Natan duduk tenang di bangku kelasnya, sambil menikmati beberapa potong roti dan teh manis yang dibawanya dari rumah.
Kelas sudah ramai pagi ini, semua siswa kelihatannya sudah hadir semua, tinggal menunggu jam masuk saja.
Natan masih duduk di bangkunya sambil menikmati rotinya yang tinggal sepotong. Tiba-tiba Natan di kejutkan oleh suara cewek dari luar kelas yang memanggil-manggil namanya. Katanya:
“Natan, adakah natan didalam kelas?”
Ucap cewek itu yang mulai kelihatan wajahnya di pintu kelas Natan, kelas 11 A.
”Hmm, ada apakah Bela pagi-pagi mencariku.” Gumam Natan dalam hati, dan dengan tersenyum Natan menjawab panggilan cewek itu.
“Ada apa kamu pagi-pagi sudah mencariku, Bel?” Tanya Natan pada Bela.
“Aku Cuma mau mengabarkan, Tan, bahwa nanti jam istirahat kedua ada rapat osis.”
Natan tersenyum, agaknya dia baru ingat, bahwa Bela pengurus osis bagian HUMAS.
“Rapat membahas apa? Agaknya sangat penting sekali, sampai nggak menunggu jam pelajaran selesai?” Tanya Natan penasaran. Lalu, dengan menarik nafas terlebih dahulu, dijawabnya pertanyaan Natan oleh Bela sang HUMAS.
“Ini membahas tentang acara ulangtahun sekolah kita nanti, Tan. Sekaligus mengumpulkan dana dari anak-anak.”
“Hmm, agaknya ketua osis kita cukup matang untuk membuat acara ulangtahun sekolah kita tahun ini sangat meriah.”
“Ya, untuk itu aku harap kamu selaku bendahara OSIS bisa menghadiri rapat siang nanti, jangan malah nongkrong di warung soto Mbak Sari.”
“Iya, iya. Aku pasti menghadiri rapat itu.”
“Ok, aku tunggu ya.”
“Huh, bukannya yang berhak menunggu aku ketua osis kita Ucok?”
Bela mencibir, lalu humas osis yang cantik itu ngeloyor pergi.
Dengan tersenyum-senyum sendiri, Bela terus menyusuri jalan di sekolahnya dari kelas Natan menuju ke kelasnya sendiri.
“Hem, sebenarnya bendahara OSIS yang bernama Natan itu cukup tampan juga, lumayan kalau dijadikan gebetan.” Ucap Bela dalam hati, sambil masih tersenyum-senyum sendiri. Tapi hatinya kembali menggumam, dan diselimuti pertanyaan-pertanyaan nakal.
“Tapi mengapa cowok yang bernama Natan itu selalu menjauh dari cewek? Didepan matanya selalu ada bahan bacaan, entah itu buku, koran, novel, atau apalah, yangpenting bisa dibaca. Bahkan bisa dikatakan Natan seorang cowok kkutubuku berat. Apa nggak terbersit sedikitpun didalam pikirannya untuk mendekati cewek? Mendapatkan kekasih seperti teman-teman lainnya. Mengapa? Bahkan terkadang Natan bersikap begitu dingin sama cewek yang berusaha menarau perhatian lebih padanya.” Bela semakin asyik dengan lamunannya tentang natan. Lalu kembali hati gadis itu mengucapkan tekat yang diyakininya suatu saat akan berhasil. Katanya:
“Biarlah, akan aku terus coba mendekati cowok itu dengan sejuta pesonaku, akan aku buat seorang Natan bertekuk lutut pada Bela. Akan aku buat dia mengemis-ngemis cinta Bela.”
Lamunan Bela dibuyarkan oleh suara cewek yang menyapanya. Cewek itu menyapa Bela dengan suara khasnya yang cempreng, sehingga Bela agak tersentak kaget.
“Wooooy! Jalan sambil tersenyum-senyum sendiri. Loh dah gila ya Bel?”
“Nagetin aja si Loh Re? Untung gueh nggak jantungan.” Ucap Bela pada temannya yang bernama Renita itu.
“Habis Loh si, jalan sambil senyum-senyum sendiri.” Bela tersenyum, lalu mereka berdua masuk kedalam kelas.
Setelah jam istirahat kedua, Natan jalan terburu-buru menuju ke ruang OSIS. Rupanya Natan terlambat 5 menit, sehingga rapat sudah dimulai. Dengan pelan-pelan Natan mengetuk pintu ruang OSIS yang tertutup rapat, namun didalamnya pastilah sudah banyak penghuninya yang sudah datang lebih dulu dari Natan.
“Mengapa terlambat, Tan?” Tanya Ucok sang Ketua OSIS.
“Hmm, maaf, tadi aku habis membeli alat tulis diluar sekolah, karena koprasi sekolah kita tutup.” Jawab Natan, lalu Ucokpun tidak memperpanjang masalah itu.
“Baiklah, berhubung ada teman kita yang sedikit terlambat mengikuti rapat ini, aku akan mengulangi ucapanku yang tadi barusaja aku ungkapkan pada teman-teman anggota Osis semua.” Ucap ucok.
“Seperti yang teman-teman ketahui, bahwa bulan ini sekolah kita akan merayakan pesta yang cukup besar, yaitu peringatan hari ulangtahun sekolah kita yang tercinta ini. Apakah teman-teman sudah tahu berapa usia sekolah kita ini?”
48 Tahun.” Jawab semua anak-anak peserta rapat serentak.
“Nah, untuk itu, saya ingin mengajak semua teman-teman anggota OSIS, bahkan yang bukan anggotaOSIS, untuk berpikir sejenak. Sekolah kita sudah cukup tua, bahkan jika sekolah ini manusia, pastilah manusia itu sudah menjadi seorang Bapak yang bijak, apa mungkin seorang Ibu yang lembut. Maka seperti sekolah ini, dengan Ibu Bapak Gurunya yang selalu trampil mendidik murit-muritnya, berhasilah sekolah ini menjadi sekolah faforit di Kota ini, yang mampu membawa siswa siswi menjuarai berbagai macam perlombaan.” Semua anak-anak peserta rapat bertepuktangan.
“Namun dari dulu jika sekolah ini merayakan hari jadinya, selalu sama. Nggak pernah berbeda. Selalu acaranya itu-itu saja, meniup lilin, memotong tumpeng, dan memeletuskan balon-balon. Bukankah acara itu hanya akan menghambur-hamburkan uang? Bukankah acara itu tidak ada manfaatnya? Untuk itu pada OSIS pereode kali ini akan merencanakan acara yang berbeda. Adapun acara yang ingin osis adakan yaitu: penanaman pohon dilingkungan sekolah, bersih-bersih bersama, dan ini yang paling tidak biasa. OSIS akan mengirimkan 2 orang anak untuk terjun kepedesaan terpencil, untuk mengikuti kegiatan belajar bertani bersama orang-orang petani yang ada di pedesaan itu. Dan untuk hal ini, kami akan memberangkatkan saudara Natan, dan saudari Bela. Nah berhubung semua orang yang tertunjuk ada disini, saya harap anda berdua siap. Dan bisa memberi alasan yang jelas apabila tidak siap.” Natan mengerutkan dahi, begitupun Bela. Lalu, tidak lama kemudian, Natan membuka suara.
“Maaf, mas Ucok, bukannya saya bendahara OSIS, dan setahu saya Mbak Bela juga bagian HUMAS didalam kepengurusan OSIS. Kalau saya dan Mbak Bela yang berangkat, siapa yang akan mengurus tugas-tugas kami?” Sejenak Ucok sang ketua OSIS mengerutkan dahi. Lalu, dijawabnya pertanyaan Natan itu.
“Hmm, Ya, ya. Aku tahu itu, Saudara Natan. Tapi tenanglah, tugas-tugas anda disini akan digantikan oleh wakil bendahara dan wakil humas.”
“Lalu bagaimana dengan pelajaran kami?” Kali ini Bela yang membuka suara.
“Tenang Mbak Bela, selama satu minggu ini semua pelajaran akan di kosongkan, karena selama satu minggu ini sekolah akan mengadakan berbagaimacam perlombaan.”
“Baiklah, aku menerima tugas itu.” Ucap Bela.
“Di desa manakah kami akan di tugaskan?” Ujar Natan menimpali.
“Apakah kalian berdua setuju?” Tanya Ucok.
“Ya, kami setuju.” Ucap Bela dan Natan berbarengan.
“Baiklah, kalian akan ditugaskan di sebuah desa yang cukup terpencil, namanya desa Karang Atos. Warga desa disana sebagian besar petani, dan Mas Natan juga Mbak Bela akan belajar bagaimana cara menjadi petani yang baik, dan bagaimana susah payahnya menjadi petani.”
“Huh, aku samasekali nggak berminat untuk menjadi petani, amit-amit deh. Kalausaja aku nggak berpikir ini kesempatan buat mendekati Natan, aku nggak akan mau di berangkatkan ke desa itu.” Gumam Bela, namun hanya didalam hati.
“Maaf Mas OSIS, aku ada sedikit pertanyaan nih.” Ucap Cempaka yang menjabat sebagai seksi kesenian dalam kepengurusan OSIS. Semua mata kini memandang ke arah Cempaka karena penasaran, apa yang akan ditanyakan gadis itu.
“Ya, ya, silahkan Mbak Cempaka, apakah yang ingin anda tanyakan?” Jawab Ucok.
“Begini Mas OSIS, selama di desa, apakah Mbak Bela serumah dengan Mas Natan?”
“Ooo, ya, Mbak Cempaka, anda betul alias tidak salah. Tapi saya yakin yang ada di pikiran anda salah. Pasti sekarang anda berpikir bahwa saat di desa Mas Natan dan Mbak Bela akan tinggal satu rumah, dan nanti mereka akan berbuat yang tidak-tidak. Bukankah begitu yang ada didalam pikiran anda Mbak Cempaka?”
Cempaka mengerutkan keningnya. Mukanya mendadak merah karena ternyata Ucok mampu menebak apa yang ada di dalam pikirannya.
“Biarkan mereka saturumah, tapi mereka saya jamin tidak akan mampu berbuat apapun, karena kamar mereka terpisah jauh. Terlebih mereka akan tinggal di rumah Kepala Desa setempat.”
Cempaka mengangguk-angguk, Lalu setelah itu Ucok sang OSIS segera menutup rapat.
Setelah rapat di tutup, semua anak-anak anggota OSIS itu langsung berebut untuk lebih dulu keluar dari ruang rapat itu.
Lalu apakah Natan dan Bela akan berhasil menjalankan tugas dari program OSIS itu?
Dan bagaimanakah keadaan keduanya setelah berada di desa Karang Atos?
Tentunya yang masih selalu setia berkunjung ke Gubug reot ini dong.
OK sob, dalam kesempatan ini aku membawa oleh-oleh cerbung nih, judulnya SECERCAH CINTAKU UNTUKNYA.
Dalam kisah ini mengisahkan tokoh utama seorang pemuda tampan kutubuku, yang selalu cuek sama cewek-cewek manis yang berusaha mendekatinya.
Ya, namun siapa tahu, bahwa dibalik kegemaran pemuda itu membaca buku dan kecuekannya sama cewek-cewek yang mendekatinya, ternyata didalam hati pemuda itu ada satu nama wanita yang sangat sulit dilupakan sama pemuda itu loh sob.
Sobat penasaran dengan kisah selengkapnya? Yuk ah Langsung kita intip bareng-bareng kisah selengkapnya.
SECERCAH CINTAKU UNTUKNYA BY MUHAMMAD AINUL YAQIN
Hidup, ya, hidup ini memang penuh likaliku. Terkadang ada bahagia yang teramat sangat, tapi juga ada duka yang juga teramatsangat.
Terkadang orang yang lagi berbahagia selalu tertawa sampai lupa segala-galanya, dan yang lagi berduka selalu meneteskan airmata, bahkan sampai nyawapun bisa melayang.
Namun apakah mereka tidak mengerti? Jika apabila Tuhan sudah berkehendak semuanya dapat berubah? Bahagia bisa menjadi duka, dan begitupun sebaliknya.
Hanya kebanyakan manusia tidak mau bersabar menunggu saatnya tiba, dan tidak mau menyadari bahwa saatnya juga nanti pasti akan tiba.
Kebanyakan orang akan cepat merasa terlena jika sedang berbahagia, dan orang akan cepat pula mengambil keputusan jika terlalu berduka. Bahkan jika dukanya terlalu berat, tidak jarang orang yang mengambil jalan pintas, yaitu bunuhdiri.
Seperti pagi ini, Natan sudah di suguhi bacaan seorang wanita yang bunuhdiri dengan cara memotong urat nadinya sendiri, dan modus wanita itu bunuhdiri karena jeratan ekonomi.
Natan terus memelototi koran yang dibelinya saat di perjalanan menuju sekolah tadi dengan dahi berkerut. “Hmm, ekonomi seret kok malah kendat. Kalau ekonominya seret ya kerja dong, jangan malah kendat, dasar orang malas, maunya kaya, tapi kerjaannya hanya tidur. Yaudah tidur aja selamanya. Toh itu sudah menjadi pilihanmu kan?” Gumam Natan dalam hati, seakan-akan hatinya berbicara pada gambar wanita yang bunuhdiri itu, yang ada di koran.
Ya, Natan seorang siswa SMA Bangsa Jaya Kota Tegal memang gemar sekali membaca.
Hari-harinya selalu ditemani buku didepan matanya. Bahkan sangkin gemarnya Natan membaca, Natan sampai merelakan sebagian uang sakunya yang tidak seberapa untuk membeli koran setiap pagi, saat mau berangkat kesekolah. Hasilnya, Natan selalu tahu berita-berita terhangat setiap harinya.
Sesudah membaca koran yang dibelinya dijalan tadi, Natan melipat koran itu, dan menyimpannya didalam tas. Lalu, Natan duduk tenang di bangku kelasnya, sambil menikmati beberapa potong roti dan teh manis yang dibawanya dari rumah.
Kelas sudah ramai pagi ini, semua siswa kelihatannya sudah hadir semua, tinggal menunggu jam masuk saja.
Natan masih duduk di bangkunya sambil menikmati rotinya yang tinggal sepotong. Tiba-tiba Natan di kejutkan oleh suara cewek dari luar kelas yang memanggil-manggil namanya. Katanya:
“Natan, adakah natan didalam kelas?”
Ucap cewek itu yang mulai kelihatan wajahnya di pintu kelas Natan, kelas 11 A.
”Hmm, ada apakah Bela pagi-pagi mencariku.” Gumam Natan dalam hati, dan dengan tersenyum Natan menjawab panggilan cewek itu.
“Ada apa kamu pagi-pagi sudah mencariku, Bel?” Tanya Natan pada Bela.
“Aku Cuma mau mengabarkan, Tan, bahwa nanti jam istirahat kedua ada rapat osis.”
Natan tersenyum, agaknya dia baru ingat, bahwa Bela pengurus osis bagian HUMAS.
“Rapat membahas apa? Agaknya sangat penting sekali, sampai nggak menunggu jam pelajaran selesai?” Tanya Natan penasaran. Lalu, dengan menarik nafas terlebih dahulu, dijawabnya pertanyaan Natan oleh Bela sang HUMAS.
“Ini membahas tentang acara ulangtahun sekolah kita nanti, Tan. Sekaligus mengumpulkan dana dari anak-anak.”
“Hmm, agaknya ketua osis kita cukup matang untuk membuat acara ulangtahun sekolah kita tahun ini sangat meriah.”
“Ya, untuk itu aku harap kamu selaku bendahara OSIS bisa menghadiri rapat siang nanti, jangan malah nongkrong di warung soto Mbak Sari.”
“Iya, iya. Aku pasti menghadiri rapat itu.”
“Ok, aku tunggu ya.”
“Huh, bukannya yang berhak menunggu aku ketua osis kita Ucok?”
Bela mencibir, lalu humas osis yang cantik itu ngeloyor pergi.
Dengan tersenyum-senyum sendiri, Bela terus menyusuri jalan di sekolahnya dari kelas Natan menuju ke kelasnya sendiri.
“Hem, sebenarnya bendahara OSIS yang bernama Natan itu cukup tampan juga, lumayan kalau dijadikan gebetan.” Ucap Bela dalam hati, sambil masih tersenyum-senyum sendiri. Tapi hatinya kembali menggumam, dan diselimuti pertanyaan-pertanyaan nakal.
“Tapi mengapa cowok yang bernama Natan itu selalu menjauh dari cewek? Didepan matanya selalu ada bahan bacaan, entah itu buku, koran, novel, atau apalah, yangpenting bisa dibaca. Bahkan bisa dikatakan Natan seorang cowok kkutubuku berat. Apa nggak terbersit sedikitpun didalam pikirannya untuk mendekati cewek? Mendapatkan kekasih seperti teman-teman lainnya. Mengapa? Bahkan terkadang Natan bersikap begitu dingin sama cewek yang berusaha menarau perhatian lebih padanya.” Bela semakin asyik dengan lamunannya tentang natan. Lalu kembali hati gadis itu mengucapkan tekat yang diyakininya suatu saat akan berhasil. Katanya:
“Biarlah, akan aku terus coba mendekati cowok itu dengan sejuta pesonaku, akan aku buat seorang Natan bertekuk lutut pada Bela. Akan aku buat dia mengemis-ngemis cinta Bela.”
Lamunan Bela dibuyarkan oleh suara cewek yang menyapanya. Cewek itu menyapa Bela dengan suara khasnya yang cempreng, sehingga Bela agak tersentak kaget.
“Wooooy! Jalan sambil tersenyum-senyum sendiri. Loh dah gila ya Bel?”
“Nagetin aja si Loh Re? Untung gueh nggak jantungan.” Ucap Bela pada temannya yang bernama Renita itu.
“Habis Loh si, jalan sambil senyum-senyum sendiri.” Bela tersenyum, lalu mereka berdua masuk kedalam kelas.
Setelah jam istirahat kedua, Natan jalan terburu-buru menuju ke ruang OSIS. Rupanya Natan terlambat 5 menit, sehingga rapat sudah dimulai. Dengan pelan-pelan Natan mengetuk pintu ruang OSIS yang tertutup rapat, namun didalamnya pastilah sudah banyak penghuninya yang sudah datang lebih dulu dari Natan.
“Mengapa terlambat, Tan?” Tanya Ucok sang Ketua OSIS.
“Hmm, maaf, tadi aku habis membeli alat tulis diluar sekolah, karena koprasi sekolah kita tutup.” Jawab Natan, lalu Ucokpun tidak memperpanjang masalah itu.
“Baiklah, berhubung ada teman kita yang sedikit terlambat mengikuti rapat ini, aku akan mengulangi ucapanku yang tadi barusaja aku ungkapkan pada teman-teman anggota Osis semua.” Ucap ucok.
“Seperti yang teman-teman ketahui, bahwa bulan ini sekolah kita akan merayakan pesta yang cukup besar, yaitu peringatan hari ulangtahun sekolah kita yang tercinta ini. Apakah teman-teman sudah tahu berapa usia sekolah kita ini?”
48 Tahun.” Jawab semua anak-anak peserta rapat serentak.
“Nah, untuk itu, saya ingin mengajak semua teman-teman anggota OSIS, bahkan yang bukan anggotaOSIS, untuk berpikir sejenak. Sekolah kita sudah cukup tua, bahkan jika sekolah ini manusia, pastilah manusia itu sudah menjadi seorang Bapak yang bijak, apa mungkin seorang Ibu yang lembut. Maka seperti sekolah ini, dengan Ibu Bapak Gurunya yang selalu trampil mendidik murit-muritnya, berhasilah sekolah ini menjadi sekolah faforit di Kota ini, yang mampu membawa siswa siswi menjuarai berbagai macam perlombaan.” Semua anak-anak peserta rapat bertepuktangan.
“Namun dari dulu jika sekolah ini merayakan hari jadinya, selalu sama. Nggak pernah berbeda. Selalu acaranya itu-itu saja, meniup lilin, memotong tumpeng, dan memeletuskan balon-balon. Bukankah acara itu hanya akan menghambur-hamburkan uang? Bukankah acara itu tidak ada manfaatnya? Untuk itu pada OSIS pereode kali ini akan merencanakan acara yang berbeda. Adapun acara yang ingin osis adakan yaitu: penanaman pohon dilingkungan sekolah, bersih-bersih bersama, dan ini yang paling tidak biasa. OSIS akan mengirimkan 2 orang anak untuk terjun kepedesaan terpencil, untuk mengikuti kegiatan belajar bertani bersama orang-orang petani yang ada di pedesaan itu. Dan untuk hal ini, kami akan memberangkatkan saudara Natan, dan saudari Bela. Nah berhubung semua orang yang tertunjuk ada disini, saya harap anda berdua siap. Dan bisa memberi alasan yang jelas apabila tidak siap.” Natan mengerutkan dahi, begitupun Bela. Lalu, tidak lama kemudian, Natan membuka suara.
“Maaf, mas Ucok, bukannya saya bendahara OSIS, dan setahu saya Mbak Bela juga bagian HUMAS didalam kepengurusan OSIS. Kalau saya dan Mbak Bela yang berangkat, siapa yang akan mengurus tugas-tugas kami?” Sejenak Ucok sang ketua OSIS mengerutkan dahi. Lalu, dijawabnya pertanyaan Natan itu.
“Hmm, Ya, ya. Aku tahu itu, Saudara Natan. Tapi tenanglah, tugas-tugas anda disini akan digantikan oleh wakil bendahara dan wakil humas.”
“Lalu bagaimana dengan pelajaran kami?” Kali ini Bela yang membuka suara.
“Tenang Mbak Bela, selama satu minggu ini semua pelajaran akan di kosongkan, karena selama satu minggu ini sekolah akan mengadakan berbagaimacam perlombaan.”
“Baiklah, aku menerima tugas itu.” Ucap Bela.
“Di desa manakah kami akan di tugaskan?” Ujar Natan menimpali.
“Apakah kalian berdua setuju?” Tanya Ucok.
“Ya, kami setuju.” Ucap Bela dan Natan berbarengan.
“Baiklah, kalian akan ditugaskan di sebuah desa yang cukup terpencil, namanya desa Karang Atos. Warga desa disana sebagian besar petani, dan Mas Natan juga Mbak Bela akan belajar bagaimana cara menjadi petani yang baik, dan bagaimana susah payahnya menjadi petani.”
“Huh, aku samasekali nggak berminat untuk menjadi petani, amit-amit deh. Kalausaja aku nggak berpikir ini kesempatan buat mendekati Natan, aku nggak akan mau di berangkatkan ke desa itu.” Gumam Bela, namun hanya didalam hati.
“Maaf Mas OSIS, aku ada sedikit pertanyaan nih.” Ucap Cempaka yang menjabat sebagai seksi kesenian dalam kepengurusan OSIS. Semua mata kini memandang ke arah Cempaka karena penasaran, apa yang akan ditanyakan gadis itu.
“Ya, ya, silahkan Mbak Cempaka, apakah yang ingin anda tanyakan?” Jawab Ucok.
“Begini Mas OSIS, selama di desa, apakah Mbak Bela serumah dengan Mas Natan?”
“Ooo, ya, Mbak Cempaka, anda betul alias tidak salah. Tapi saya yakin yang ada di pikiran anda salah. Pasti sekarang anda berpikir bahwa saat di desa Mas Natan dan Mbak Bela akan tinggal satu rumah, dan nanti mereka akan berbuat yang tidak-tidak. Bukankah begitu yang ada didalam pikiran anda Mbak Cempaka?”
Cempaka mengerutkan keningnya. Mukanya mendadak merah karena ternyata Ucok mampu menebak apa yang ada di dalam pikirannya.
“Biarkan mereka saturumah, tapi mereka saya jamin tidak akan mampu berbuat apapun, karena kamar mereka terpisah jauh. Terlebih mereka akan tinggal di rumah Kepala Desa setempat.”
Cempaka mengangguk-angguk, Lalu setelah itu Ucok sang OSIS segera menutup rapat.
Setelah rapat di tutup, semua anak-anak anggota OSIS itu langsung berebut untuk lebih dulu keluar dari ruang rapat itu.
Lalu apakah Natan dan Bela akan berhasil menjalankan tugas dari program OSIS itu?
Dan bagaimanakah keadaan keduanya setelah berada di desa Karang Atos?


0 komentar:
Posting Komentar