Home » , , » SECERCAH CINTAKU UNTUKNYA PART 2

SECERCAH CINTAKU UNTUKNYA PART 2

Hey, hello paramitra setia mitra difabel.
Aku kembali muncul menyapa kalian semua nih, tentunya dengan membawa kelanjutan cerita yang berjudul SECERCAH CINTAKU UNTUKNYA dong.
Kali ini sudah di part yang kedua ya sob, dan bagi sobat yang penasaran, yuk ah sob, langsung saja kita intip ceritanya, sambil ngabuburit.
SELAMAT MEMBACA

SECERCAH CINTAKU UNTUKNYA BY MUHAMMAD AINUL YAQIN


Pagi ini adalah hari keberangkatan Bela dan natan ke Desa Karang Atos. Sekolahpun mengadakan doa bersama untuk melepaskan kepergian mereka.
Setelah doa bersama selesai dilaksanakan, maka Bela dan Natanpun siap berangkat. Pak Syarif sebagai Kepala Sekolah yang mengantarkan mereka sampai ke Desa Karang Atos.
Selama dalam perjalanan Natan benar-benar diam seribu bahasa. Ia tidak banyak bicara, jika memang tidak benar-benar perlu.
“Hmm, cowok ini memang benar-benar dingin dan pendiam.” Gumam Bela dalam hati.
“Tapi lihatlah, pasti di desa nanti akan aku buat Dia benar-benar bertekuk lutut padaku.” Gumamnya percaya diri.
        “Mas Natan tadi sarapan nggak?” Tanya Bela sambil membuka tas kecilnya. Agaknya dia mau mengambil makanan semacam roti apa mungkin biskuit dari dalam tasnya.
“Sarapan, Mbak. Ibuku selalu mengingatkan aku untuk sarapan jika aku hendak bepergian jauh.” Jawab Natan. Bela mengangguk, lalu suasana didalam mobil itu kembali sepi seperti semula. Tidak ada suara manusia yang bercakap, yang ada hanya suara deru mesin mobil dan suara tlakson kendaraan dikeramaian jalan raya yang terdengar samar-samar dari dalam mobil.

Setelah hampir 2 jam mereka menempuh perjalanan, maka sampailah mereka di sebuah pedesaan yang sangat terpencil, namun suasana pedesaan itu benar-benar masih sejuk dan asri.
Udara yang segar, sungai yang mengalir jernih, dan persawahan yang hijau luas membentang. Gunung yang tinggi mencakar langit menambah indah pemandangan desa itu. Jika di kota terdengar suara tlakson yang selalu memekakan telinga, maka di desa ini terdengar kicau burung yang memanjakan telinga.
Inilah desa Karang Atos. Desa di wilayah pegunungan yang jauh dari keramaian kota, desa yang menenangkan dan penduduknya rukun serta makmur.
Natan dan Bela serta Pak Syarif tiba di desa itu sekitar pukul 4 sore. Pak Rasimun, selaku kepala desa Karang Atos, yang rumahnya akan ditumpangi Natan dan Bela, menyambut mereka dengan ramah. Tidak ketinggalan pula Bu Warsini, istri Pak Rasimun, dan kedua anaknya yang bernama Parjo, dan anak perempuannya yang bernama Sekar mirah, ikut menyambut kedatangan Natan dan Bela.
“Saya titip anak didik saya Pak Kades.” Ucap Pak Syarif pada Pak Rasimun saat hendak meninggalkan Natan dan Bela.
Lalu sesudah itu, Pak Syarif pamit untuk kembali kekota.

“Mari, Mas, biar aku antar ke kamar, siapatau masnya mau bersiap untuk mandi, dan sesudah itu masnya pengin beristirahat. Nanti Mbaknya biar adek saya Sekar Mirah yang menghantarkan kekamarnya.” Ucap Parjo pada Natan dan Bela dengan ramahnya.
“Eh, iya, terimakasi Mas, terimakasih.” Jawab Natan tak kalah ramahnya. Sementara Bela, hanya terdiam seperti orang yang kebingungan. Sehingga Parjopun memanggil adiknya yang bernama Sekar Mirah.
“Sekar! Nih, tolong hantarkan Mbak Bela kekamarnya.” Panggilan Parjo tidak hanya mengejutkan Sekarmirah, tapi mengejutkan Pak Rasimun dan Bu Warsini yang masih mengobrol dengan tetangganya di halaman rumahnya, setelah menghantarkan kepergian Pak Syarif tadi.
“Hmm, agaknya memang kebiasaan semua orang peddesaan, mengerumpi dengan tetangganya.” Gumam Natan dalam hati, sementara Bela hanya terdiam seperti orang dongo yang tak tahu apa-apa.
“Mari, Mbak, aku hantarkan Mbak kekamar.” Ucap Sekar Mirah.
“EEH, iya, terimakasih Mbak.” Jawab Bela.

Setelah sudah berada di kamarnya, Bela sedikit bertanya-tanya dalam hati: mengapa sikap Pak KADES dan istrinya benar-benar berbeda? Tadi waktu Pak Syarif masih berada disini mereka benar-benar ramah, setelah Pak Syarif udah pulang mengapa mereka seperti lupa kalau di rumahnya ada tamu? Mereka malah asyik ngerumpi dengan tetangganya, dan yang menghantar aku juga Natan ke kamarnya malah anaknya yang cowok dan yang cewek itu. Oooh, rupanya begini sikap orang kampung?
Bela terus bergumam dalam hatinya, sementara Natan tak acuh dengan sikap apapun yang di hadapinya.
Natan malah asyik membaca-baca buku yang dibawanya, sambil merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Sementara Bela masih gelisa di kamarnya, karena selain memikirkan sikap sang tuan rumah, Ia juga dari di mobil sudah terasa ingin pipis yang terus di tahannya.
“Kalau aku tahan terus, bisa-bisa aku ngompol nih, duh, biarlah aku cari gadis yang bernama Sekar Mirah tadi, aku benar-benar nggak kuat lagi pengin pipis.” Gumam Bela, lalu dengan berjalan terjingkat-jingkat Bela keluar dari kamar, dan mencari Sekar Mirah.
Dari dalam rumah samar-samar terdengar suara Pak Rasimun dan Bu Warsini yang masih saja mengerumpi dengan tetangganya.
Sesekali Mereka tertawa, kemudian terlibat lagi dengan obrolan yang Bela benar-benar tidak mampu mendengarnya dengan jelas. Karena selain mereka jauh, mereka ngobrol menggunakan bahasa jawa yang Bela samasekali tidak mengerti artinya.
“Permisi Pak, Bu.” Ucap Bela dengan sopan saat bela sudah berada juga di beranda rumah itu. Namun sepertinya mereka tidak ada yang melihat kehadiran Bela, sehingga mereka kaget.
“Eh, iya Mbak, ada yang bisa saya bantu?” Ucap Sekar Mirah.
“Maaf Mbak, saya mau tanya.” Bela tidak melanjutkan kata-katanya, sehingga sekar Mirah mendekat.
“Iya, Mbak, ada yang bisa saya bantu?”
“Saya mau tanya, dimana kamarmandi?” Ucap Bela sambil tersenyum malu.
“Eeeh, iya Mbak, karena keasyikan ngobrol, Mbaknya jadi di cuekin.”
“Ya, ya, nggak papa Mbak.” Ucap bela dengan senyum dibibirnya, meskipun sebenarnya hatinya mendongkol.
“Mari, Mbak, saya antar.”

Kedua cewek itupun kembali masuk kedalam rumah, sementara Natan mulai mendengkur di kamarnya. Sikap orang-orang desa tuanrumahnya itu samasekali tidak mengganggu fikirannya.
Bahkan Natan samasekali tidak memikirkan badannya yang mungkin masih bau karena belum mandi. Cowok itu begitu cuek, dan apa adanya.
“Mas Natannya di mana?” Tanya Sekar Mirah  pada Bela.
“Nggak tau, mungkin Ia tidur.” Jawab Bela.
“Apa Mbak Bela bisa membangunkannya? Sebentar lagi magrib, menurut kami orang kampung pamali kalau magrib-magrib tidur.” Bela mengerutkan dahi mendengar ucapan Sekar Mirah. Tapi di jawabnya pertanyaan Sekar Mirah itu.
“Ya, ya, nanti saya bangunkan dia lewat telpon Mbak.” Jawab Bela.
“Tolong ya Mbak, Ayah bisa marah soalnya kalau di rumahnya ada yang tidur magrib-magrib.”
“Ya, ya, Mbak.” Jawab Bela, lalu Bela masuk ke kamarnya, dan Sekar Mirahpun bablas ke ruang depan, mungkin mau melanjutkan ngerumpinya, apa mau apa, Bela nggak tau, dan memang Bela nggak mau tahu.

Sesampainya Kembali di dalam kamarnya, Bela mengambil HP-nya dan langsung menelpon Natan.
“Halo, ada apa? Bel?”
“Hey bangun lah, tuanrumah kita bisa marah nanti, kalau magrib-magrib ada yang tidur di rumahnya.”
“Iya, iya, ini aku udah bangun.” Jawab Natan yang masih setengah memejamkan matanya.
“Kita solat Magrib berjamaah.” Ucap Bela.
“Aku belum mandi, Bel.”
“Cepatlah, bangun mandi, nggak enak kita di rumah orang.”
Lebih nggak enak lagi kalau kita di rumah tawon, Bel.”
“Huh.” Bela mencibir.
“Cepatlah bangun, nggak usah bercanda.” Ucap Bela yang sebenarnya hatinya berdebar-debar.
“Iya, Iya. Aku bangun sekarang.” Ucap Natan, yang langsung menutup telponnya.
Bela langsung menggemas-gemas gulingnya. Sebelumnya, Natan nggak pernah bercanda seperti ini. “Semoga ini awal Natan akan suka sama aku. Kalau memang aku nggak berhasil, berarti memang Natanlah yang katarak, nggak bisa melihat cewek secantik aku. Apa Natan mungkin Homo, yang nggak bisa suka sama lawanjenis, tapi sukanya sama yang sejenis.” Gumam Bela sendiri.

Setelah Natan mandi, solat magrib berjamaah, Natan dan Belapun langsung menuju ke ruang makan keluarga untuk makan malam bersama.
“Eh, mari, mari, Mas Natan dan Mbak Bela.” Ucap Pak Rasimun.
“Silahkan Mas dan Mbak, kita makan apa adanya.” Ujar Bu Warsini.
“Sini Mbak, duduk sini.” Celetuk Sekar Mirah mempersilahkan Bela duduk di sampingnya.
“Ya, beginilah Mas, makanan di desa, nggak seenak di kota.” Ucap Parjo.
“Di kotapun saya nggak suka makan yang enak-enak, Mas.” Jawab Natan.
“Apa Mas Natan dan Mbak Bela sudah siap bekerja di sawah bersama kami besok?” Tanya Pak Rasimun.
“Kalau saya sudah siap lahir batin, Pak, Nggak tau dengan Mbak Bela.” Jawab Natan.
“Saya juga insya Allah siap, Pak, ya, meskipun saya tidak biasa bekerja di sawah, tapi akan saya coba.” Ujar Bela.
“Kalau Mbak Bela nggak biasa bekerja di sawah, masak aja sama Ibu di rumah.” Ucap Bu Warsini.
“Iya, Mbak, benertuh kata Ibuku, daripada Mbak Bela disawah panas-panasan.” Celetuk Sekar Mirah.
“Iya, gitu juga boleh, nanti tapi Mbak Bela yang menghantarkan makanannya kesawah, kalau sudah waktunya makan siang.” Ujar Parjo menambahi.
“Ya gitu juga boleh.” Ucap Natan yang sedaritadi hanya mengangguk-angguk.
“Lalu saya bekerja disawah hanya sendiri, apa beberapa orang, Pak?” Tanya Natan sama Pak Rasimun.
“Mas Natan bekerja sendiri, tapi tenang pekerjaan itu ringan, hanya menyemprot tanaman padi agar tidak kena hama, obat semprotnya sudah saya siapkan di dalam tangki, jadi besok Mas Natan tinggal membawanya.
“Baik, Pak.” Jawab Natan.
“Apa Mas Natan tidak perlu bantuan misalnya cara menyemprotnya?” Tanya Parjo.
“Untuk ini tidak dulu, Mas. Kalau hanya menyemprot padi, saya sedikit tahu karena dulu waktu saya masih kecil saya tinggal di desa, dan saya sering ikut kakek saya bertani.” Parjo mengangguk-angguk.
“Ooh, ya, bagus kalau gitu, Mas.” Ucap Pak Rasimun.
“Kehadiran Mas dan Mbak sangat membantu kami disini.” Ucap Bu Warsini sambil tersenyum ramah.
“Yak sudah, barangkali Mas Natan ingin beristirahat, besok kan sudah mulai kerja.” Ucap Pak Rasimun.
“Nggak Pak, saya ingin duduk-duduk diluar dulu, melihat-lihat suasana malam di pedesaan.” Jawab Natan.
“Oh, kalau gitu silahkan, Mas.”
“Terimakasih, Pak.”

Natan duduk di beranda depan rumah Pak Rasimun. Dalam hatinya berkata: “Beginilah suasana malam di pedesaan, suasana yang aku rasakan waktu aku kecil dulu.”
Natan membayangkan waktu hidup di desa, bersama kakek dan neneknya. Membayangkan saat-saat bermain bersama teman-teman kecilnya.
“Hmm, bagaimana sekarang kabarnya Bejo, Trianto, dan Warno? Dulu mereka selalu main di sawah sama aku. Apa Bejo sekarang perutnya masih buncit? Apa Warno masih suka melorot-melorotin celana temannya? Apa Trianto masih suka menangis karena pantatnya bisulen? Tentu sekarang mereka sudah besar-besar.”
Natan masih asyik melamun membayangkan masakecilnya yang bahagia. Hidup di desa bersama kakek dan neneknya karena orangtuanya di kota selalu sibuk dengan pekerjaannya, sehingga Natan tidak terurus jika harus hidup di kota bersama ayah dan ibunya.

Sementara Bela, malah asyik dengan laptop-nya di kamar. Namun meskipun demikian pikiran Bela selalu tertuju pada Natan. Sehingga lama-lama Bela pusing sendiri. “Huh, kenapasi? Natan ada di pikiran aku terus?” Ucap Bela dalam hati.
Bela mematikan laptop-nya, lalu merebahkan badannya di kasur. Matanya memandang ke arah langit-langit kamar.
“Apa ya alasannya supaya aku bisa keluar dan duduk sama Natan?” Ucap Bela dalam hati. Ya, gadis itu sedang berpikir keras agar bisa mendekati Natan.
Setelah otaknya terus di putar memikirkan bagaimana alasannya supaya bisa keluar dan duduk bersama Natan, gadis itu akhirnya ngantuk juga. Pikirannya samasekali tidak menemukan cara yang tepat agar bisa keluar dan mendekati Natan.

Sementara di beranda Rumah Pak Rasimun, Natan masih saja asyik dengan lamunannya. Pikirannya terus membayangkan bagaimana masa-masa kecilnya. Natan tidak menyadari, bahwa pintu rumah itu terbuka, dan seorang gadis keluar dari pintu itu.
Gadis itu sejenak memperhatikan Natan yang sedang melamun, tapi gadis itu langsung membuang pandangannya jauh-jauh saat Natan menyadari kehadirannya.
“Eh, Mbak sekarmirah.” Ucap Natan sambil tersenyum. Sekarmirah membalas senyuman Natan.
“Nggak tidur, Mas Natan?” Tanya Sekar Mirah.
“Sebentar lagi lah, masih betah melihat-lihat pemandangan desa di malam hari.”
“Nggak ada yang asyik buat dilihat, Mas, semuanya hanyalah rumah penduduk dan jalanan sempit di desa, nggak ada yang menarik.” Ujar Sekar Mirah.
“Iya, tapi aku suka pemandangan desa di malam hari seperti ini, aku dulu orang desa.”
Oh iya? Mas Natan?
“Iya.”
“Memangnya Mas Natan dulu tinggal di desa apa? Dan di daerah mana?” Tanya Sekar Mirah semakin jauh.
“Aku dulu tinggal di desa Pondok Jati, itu di daerah Tegal Jawatengah.”
“Wah, jauh dari sini, Mas.” Kata Sekar Mirah.
“Iya, kalau dekat dari sini pasti aku udah main ketempat kakek dan nenekku.”
“Memangnya Mas Natan nggak sering main kesana?”
“Ya sering si, tapi paling kalau libur lebaran, apa libur tahun baru.”
“Nggak pengin main kesana, Mas? Misalnya minggu ini, kalau mas Natan udah hampir selesai menjalankan tugas sekolahnya? Capek kan, kalau seminggu ful harus kerja terus? Lagian desa Pondok Jati nggak terlalu jauh banget dari sini.”
Mendengar ucapan Sekar Mirah, Natan terdiam sejenak. Tapi akhirnya di jawabnya juga pertanyaan gadis itu.
“Pengin juga si, Mbak Sekar nggak pengin ikut?”
“Pengin juga si Mas, tapi kalau Ayah sama Ibuku mengizinkan.”
“Tentu, aku seneng banget kalau aku bisa kerumah kakek dan nenekku bareng sama Mbak Sekar, apalagi Mas Parjo juga ikut.”
“Wah, kalau Mas Parjo kayaknya nggak mungkin bisa ikut, Mas. Soalnya kan dia juga kerja di balai desa.” Natan mengangguk-angguk mendengar jawaban Sekar Mirah. Lalu kemudian katanya:
“Ya nggak papalah, Mas Parjo nggak bisa ikut, tapi setidaknya Mbak Sekar ikut itu udah bersyukur banget aku, soalnya biar menemani Bela, kalau aku dan Bela berdua takutnya aku dikira mau ngenalin calon istri sama nenek dan kakek.” Sekar Mirah tersenyum mendengar ucapan Natan. Lalu kemudian katanya:
Tidurlah dulu, Mas, ini sudah malam, ntar besok kesiangan loh.”
Natan mengangguk, kemudian nggak lama kemudian mereka berduapun masukk kedalam kamar masing-masing.
Beranda rumah Pak Rasimun sudah sepi, seperti suasana malam Desa Karang Atos yang sudah sepi semakin larut malam.
Nggak ada suara orang satupun, yang ada hanya suara anjing dan binatang malam yang ramai mewarnai suasana malam di desa Karang Atos.




Lalu apakah Natan dan Bela akan betah selama tinggal di desa itu?


Ikuti kelanjutan kisahnya di part selanjutnya. Sampai jumpa.

0 komentar:

Posting Komentar

Technology

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Arsip Blog

Cari Yang Ada Saja Ya Sob

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Author Details

Templatesyard is a blogger resources site is a provider of high quality blogger template with premium looking layout and robust design. The main mission of templatesyard is to provide the best quality blogger templates which are professionally designed and perfectlly seo optimized to deliver best result for your blog.

Breaking

Fashion

News

Food

Sports

Food

Technology

Featured

Videos

Mengenai Saya

Seorang Tunanetra dari tegal yang sangat hobby menulis

Follow Us @templatesyard

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Tags

Music (1)

Categories

Sponsor

AD BANNER

Recent News

About Me

authorHello, my name is Jack Sparrow. I'm a 50 year old self-employed Pirate from the Caribbean.
Learn More →

Connect With us

Comments